Pages

Thursday, January 31, 2013

ImanInside Shope > Syaamil Al-Qur’an Type Bukhara

ImanInside Shope
Sila Like page >> https://www.facebook.com/ImaninsideShope?ref=hl  <<

 Dapatkan Al-Quran dari Imaninside Shope
>> https://www.facebook.com/ImaninsideShope?ref=hl <<
Berminat Sila layari and like page > https://www.facebook.com/ImaninsideShope?ref=hl

Syaamil Al-Qur’an Type Bukhara


• Type Bukhara A5 (14,8x21cm) Al-Aur’an + Terjemah Tajwid (Full Colour) Hard Cover + doff.

Keunggulan 

• Varian warna cover lebih banyak. 
• Terjemahan Kementerian Agama  
• Asbabunnuzul.
• Tata letak isi lebih nyaman. 
• Khat Tajwid lebih besar.
• Panduan tanda-tanda tajwid pada setiap halaman.
• Hadits-hadits sahih (Bukhari-Muslim) yang merujuk pada ayat terkait dan ditampilkan tiap halaman.
• Intisari ayat, membahas kandungan ayat terkait.
• Indeks tematik, berisi klasifikasi ayat-ayat Al-Qur’an berdasarkan klasifikasi besar Al-Qur’an.
• Free Al-Ma’surat.

Berminat Sila layari and like page > https://www.facebook.com/ImaninsideShope?ref=hl



Tuesday, January 17, 2012

Kelembutan Hati
Senin, 16 Januari 2012 04:35 WIB


REPUBLIKA.CO.ID, Oleh H Imam Nur Suharno MPdI


Ada seorang syekh melihat seorang anak berwudhu di tepi sungai sambil menangis. Syekh tersebut bertanya, “Wahai anak, mengapa engkau menangis?”

Anak tersebut menjawab, “Saya membaca ayat Alquran, hingga sampai ayat: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS At-Tahrim [66]: 6). Saya takut, jangan-jangan Allah memasukkan saya ke neraka.”

Syekh tersebut berkata, “Wahai anak kecil, kamu tidak akan disiksa, karena kamu belum baligh, jangan merasa takut, kamu tidak berhak memasuki neraka.”

Anak kecil tersebut menjawab, “Wahai syekh, engkau adalah orang yang pandai, tidakkah syekh tahu bahwa seorang yang menyalakan api untuk satu keperluannya itu memulai dengan kayu-kayu yang kecil baru kemudian yang besar.”

Seraya menangis seorang syekh tersebut berkata, “Anak ini lebih takut kepada neraka daripada saya.”

Itulah gambaran kelembutan hati seseorang yang dibingkai dengan iman. Seorang yang betul-betul beriman dan senantiasa bertambah keimanannya akan semakin peka dan mudah merasai sesuatu, karena semua perkara akan dilihat dari kehendak-kehendak Allah, bukan dari kehendak-kehendaknya.

Seorang yang beriman kepada Allah pasti akan sedih apabila tidak dapat bersedekah karena tidak memiliki harta, akan takut apabila azab akan menimpa dirinya sewaktu-waktu, akan bersedih bila tidak mampu membantu orang-orang yang susah, akan meneteskan air mata kesedihan apabila melihat anak-anak yang terlantar, akan harap apabila nanti dimasukkan ke dalam surga, akan gembira apabila imannya terus kekal hingga ke penghujung usia, dan begitu seterusnya.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Demi Allah, seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui niscaya kamu akan sedikit tertawa dan akan banyak menangis.” (HR Tirmidzi).

Seorang Tabi’in pernah berkata, “Siapa diberi ilmu dan tidak membuatnya menangis maka lebih baik baginya untuk tidak diberi ilmu, kerana Allah telah menerangkan bahwa sifat orang yang berilmu itu adalah menangis.” (HR Ad-Daraami).

Oleh karena itu, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa orang yang takut kepada Allah (karena kelembutan hatinya) adalah orang-orang yang berilmu, sebagaimana firman Allah SWT, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama (orang-orang yang berilmu).” (QS Fathir [35]: 28). Wallahu a’lam.

Thursday, December 29, 2011

-Ustaz Ali Fathullah- Muhasabah diri..

Hari berganti minggu, bulan demi bulan berlalu, dan kita pun Alhamdulillah, syukur kepada Allah, sampai hampir di penghujung tahun 2011.
Esok tengah malam, jika Allah mengizinkan kita hidup, kita akan memasuki tahun yg baru, peruntukkan atau bajet umur yg baru, untuk kita jadikan modal bagi menambahkan lagi bekalan yg akan kita bawa ketika kita berjumpa dengan Allah nanti, kita tidak tahu bila, tetapi ia pasti.
Allah telah mengingatkan kita semua:

8. Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, ia pasti akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (S. al Jumuah/ :8)

Dengan asas kefahaman ini, tentu kita tidak akan mengorbankan akhirat dengan dunia, kebahagiaan abadi dengan kesenangan yang fana.

Kegembiraan menyambut awal tahun baru di saat-saat berakhirnya 2011, hendaklah dijadikan sebagai bentuk rasa syukur atas masa lalu, dan sekaligus sebagai bentuk harapan untuk menjadikan masa hadapan yg lebih baik. Bukan bentuk kesia-siaan dan kedurhakaan kepada Allah yang telah memberi kita berbagai nikmat.
Allah telah mengingatkan kita semua

9. Wahai orang-orang Yang beriman! janganlah kamu dilalaikan oleh (urusan) harta benda kamu dan anak-pinak kamu daripada mengingati Allah (dengan menjalankan perintahNya). dan (ingatlah), sesiapa Yang melakukan hal itu, maka ia termasuk golongan orang-orang yang rugi.” (S. al Munafiqun/:9)

Kaum muslimin/mat yg dirahmati Allah!
Mengingati masa yang telah berlalu, begitu banyak nikmat2 yang Allah beri, yang telah kita rasakan sepanjang kehidupan selama ini; nikmat panjang umur, nikmat sihat tubuh badan dan yang lebih penting lagi, nikmat hidayah, nikmat iman dan Islam.
Sudahkah kita mengiringi setiap nikmat itu dengan mensyukurinya? Sebelum kita mengharap agar Allah memberi kita, lagi banyak nikmat di tahun2 akan datang?.

Allah telah berfirman:

7. Dan (ingatlah), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (S. Ibrahim/14:7)

Setiap kita ingin menjadikan tahun hadapan lebih baik dari tahun ini. Jika kita mahu bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya, niscaya Allah akan memberi apa yang kita cita-citakan;

Kaum muslimin/mat yg dirahmati Allah!

Rasulullah saw mengingatkan kita agar sentiasa melakukan perhitungan diri atau muhasabah, dan menjauhi sikap mengikuti hawa nafsu dan berangan-angan kosong, jika ingin berjaya.

Dari Syadad bin Aus r.a., dari Rasulullah saw., bahwa Baginda bersabda,

‘Orang yang bijak ialah yang menghisab (mengira) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedang orang lemah ialah yang menundukkan dirinya kepada hawa nafsunya dan berangan-angan terhadap Allah swt. (HR. Imam Turmudzi, ia berkata, ‘Hadits ini adalah hadits hasan’)

Dalam Al-Qur’an, Allah swt. memberi peringatan:

“Wahai orang-orang yang beriman! bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah tiap-tiap diri melihat dan memerhatikan apa yang ia telah sediakan (dari amal-amalnya) untuk hari esok (hari Akhirat). dan (sekali lagi diingatkan): bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat meliputi pengetahuannya akan segala yang kamu kerjakan. dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang telah melupakan (perintah-perintah) Allah, lalu Allah menjadikan mereka melupakan (amal-amal Yang baik untuk menyelamatkan) diri mereka. mereka itulah orang-orang Yang fasik - derhaka.” (Maksud firman Allah S. al Hasyr/59:18-19)

Umar r.a. ada mengingatkan: “Hisablah (kiralah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk menghadapi hari aradh akbar (hari perhitungan di hari kiamat).”

Marilah sama-sama kita melakukan muhasabah, agar tahun hadapan lebih baik dari tahun ini, agar hidup kita yg baki benar-benar memberi manfaat maksimal bg kejayaan d akhirat nnti.

Tuesday, December 20, 2011

Bagaimana Kiat Tegar Menghadapi Cobaan?

            Sebahagian orang akan berkata,"Saya belum lama iltizam (komitmen) dengan islam. Saya khawatir tidak tegar saat menghadapi banyak cobaan atau tidak sabar terhadapnya.

             Kepada orang seperti itu, saya sitir sabda Rasulullah saw,

            "Barangsiapa meminta kesabaran, Allah membuatnya sabar."
            (Diriwayatkan Al-Bukhari,Muslim,Abu Dawud,At-Tirmidzi,An-Nasai,Ahmad,Malik,Ad-Darimi
            ,dan Al-Baihaqi).

            Dan, sabda Rasulullah saw,

            "Barangsiapa menginginkan kebaikan, ia diberi kebaikan. Dan, barangsiapa menjauhi
             keburukan, ia dilindungi darinya."

             Siapa berusaha menyiapkan sarana-sarana kemenangan, Allah ta'ala memberinya kemenangan. Dan, siapa mengerjakan sarana-sarana kehinaan, ia mendapatkan kehinaan. Allah ta'ala berfirman,

              "Dan Allah tidak menganiaya mereka, tapi mereka yang menganiaya diri mereka sendiri".
               (An-Nahl : 33) 

              Akhi, aktivis islam, Anda harus meningkatkan kesabaran, dengan cara menyiapkan jiwa Anda untuk bersabar, niscaya jiwa Anda bersabar pada suatu waktu, bahkan menjadi jiwa yang ridha, insya Allah. Salah seorang generasi salaf berkata."Saya membawa jiwaku kepada Allah dalam keadaan menangis. Saya terus-menerus membawanya kepada-Nya, hingga akhirnya ia pulang kepadaku dengan tertawa."

              Jika kelelahan Anda memuncak , cobaan Anda semakin meningkat dari hari ke hari, musibah datang beruntun kepada Anda, jiwa Anda yang selalu memerintahkan kepada keburukan itu memprovokasi Anda untuk "memilih" dunia, dan jiwa Anda membangkang kepada Anda, maka Anda harus mengendalikan jiwa Anda, dan merespon seruan Allah ta'ala dengan ridha, setelah sebelumnya ogah-ogahan.

              Katakan kepada jiwa Anda,"Anda sudah melangkah sedemikian jauh di perjalanan menuju Allah dan perjalanan tidak lama lagi berakhir.Bersabarlah!

              jiwaku, jangan sia-siakan amal shalihmu di masa lalu, tidak tidur bermalam-malam dan berhari-hari, dan lelah bertahun-tahun, hanya dalam tempo sesaat dengan gegabah. Sabar itu sebentar. Karena itu, bersabarlah! Cobaan itu laksana tamu. Biasanya, tamu itu tidak lama berada di rumah yang dikunjunginya. Betapa indah pujian dan sanjungannya kepada tuan rumah yang dermawan. Wahai kaki yang sabar, teruslah beramal! Tidak lama lagi pekerjaan akan selesai."

               Anda mesti bersikap terhadap diri Anda, seperti dikerjakan Bisyr Al-Hafi terhadap murid-muridnya, yang ikut bepergian bersamanya, pada suatu waktu. Di tengah jalan, salah seorang muridnya kehausan, lalu berkata kepada Bisyr Al-Hafi,"Bolehkah saya minum air sumur ini?" Bisyr Al-Hafi berkata' "Sabarlah, sampai ketemu sumur lain!"Ketika Bisyr Al-Hafi dan rombongan tiba di sumur yang lainnya, Bisyr Al-Hafi berkata,"Sabarlah, sampai ketemu sumur lain!"Setiap kali tiba di salah satu sumur lain!"Lalu, Bisyr Al-Hafi berkata kepada muridnya yang kehausan itu,"Beginilah, cara melintasi dunia."

              Anda berkata kepada jiwa Anda,"Sungguh, fajar pahala telah merekah dan malam cobaan telah berlalu. Pengembara disanjung, karena telah melewati kegelapan malam. Ketika matahari pahala terbit, ia tiba di tempat aman,"seperti dikatakan Ibnu Al-Jauzi rahimahullah.

            Saya terpikat dengan kata-kata agung yang sering diucapkan Imam Ahmad rahimahullah."Ini bukan sembarang  makanan dan minuman. Namun, hari-hari yang sebentar."

            Kalimat pendek ini perlu direnungkan dan dikaji, dengan mendalam.

            Anda juga perlu berkata kepada jiwa Anda,"Tidakkah engkau lihat menusia ditimpa musibah lebih berat dari musibah yang menimpamu, tapi mereka tidak diberi pahala dan kesabaran oleh Allah? Biasanya, mereka sedih,kalut,sesak dada,dan gila,gara-gara musibah itu. Apakah engkau tidak pernah mendengar informasi mobil yang ditumpangi satu keluarga tenggelam di sungai dan mereka semua meninggal dunia seketika? Apakah musibahmu sebanding dengan musibah mereka?

              Barangkali, musibah terberatmu ialah dibunuh musuh. Itupun kehormatan dan kehidupan paling mahal, bukan musibah. Engkau juga tidak merasakan penderitaan dan sakit, karena musibah itu. Musibah itu hanya berupa satu atau beberapa timah panas yang mengoyak tubuhmu dan engkau tidak merasakan apa-apa selain seperti menyentuh timah, seperti disabdakan Rasulullah saw.

                Apa sih yang bisa dilakukan musuh terhadapmu? Mareka cuma sekedar memenjarakanmu sebulan,atau dua bulanmatau setahun, atau beberapa tahun, atau seumur hidup. Engkau beruntung menghabiskn umurmu di jalan Allah ta'ala dan mengikuti jalan hidup Nabi Yusuf as, yang mendekam beberapa tahun di penjara.

                Hai jiwaku, tidakkah engkau lihat ribuan menusia dijebloskan ke penjara, justru karena mereka bermaksiat kepada Allah ta'ala? engkau harus bangga bahwa engkau diuji, karena ketaatanmu kepada Allah azza wa jalla. Engkau lihat si A divonis hukuman gantung, gara-gara melampiaskan syahwat hinanya, yaitu memperkosa wanita. Si B divonis hukuman seumur hidup, sebab akrab dengan setan dan NARKOBA.

                Pikirkan ribuan manusia, bahkan orang-orang kafir, yang lumpuh atau buta! Mereka mengalami cobaan, lebih berat dari cobaanmu. Bisa jadi,cobaan selama beberapa bulan atau tahun menjadikanmu memperoleh kedudukan tinggi dalam agama, engkau kenal Allah ta'ala dan perintah-Nya, serta mencapai kedudukan orang-orang ahli ibadah,orang-orang zuhud, dan orang-orang khusyuk. Banyak aktivis islam, yang justru sanggup mengerjakan qiyamul lail saat berada di situasi sulit. Banyak juga aktivis  yang memahami Al-Quran,tujuannya, dan hikmahnya yang mencegangkan saat ia berada di situasi genting. Ia juga dapat menghapalnya dan mempelajari tafsirnya. Ada lagi perolehan puncak, yaitu ia meraih banyak ilmu, yang tidak dapat dipelajari seseorang dari buku atau koran. Ia juga mendapatkan makna-makna, yang tidak ia ketahui dan rasakan manisnya, kendati ia membaca,mempelajari dan menghapalnya. Yaitu makna-makna, seperti tawakal,taubat,takut kepada Allah ta'ala,keyakinan dan ridha.

Semoga Allah merahmati Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang berkata, 

"Tamanku ada di hatiku.Ke mana aku pergi,tamanku selalu bersamaku,tidak pernah berpisah denganku. Jika aku dipenjara, maka itu saat terbaik bagiku untuk menyendiri bersama diriku. Jika aku dibunuh, aku mati syahid. Jika aku diusir dari negeriku, maka itu rekreasi".


                   Hendaknya aktivis islam berkata seperi dikatakan Ibnu Al-Jauzi rahimahullah saat berdialog dengang Tuhannya,"Betapa beruntungnya aku dengan apa yang diambil dariku jika hasilnya ialah aku dapat berlindung kepada-Mu. Betapa benyaknya perolehanku jika hasilnya ialah aku bisa berduaan dengan-Mu. Betapa damainya aku, jika Engkau menjadikanku tidak butuh kepada makhluk. Aku menyesali waktu yang hilang tidak untuk mengabdi dan taat kepada-Mu.

                     Dulu, jika aku bangun waktu subuh, maka tidurku semalam suntuk tidak menyakitkanku. Jika waktu siang habis, aku tidak merasa sakit atas hilangnya siang itu. Aku tahu itu semua terjadi pada diriku, disebabkan penyakit berat. Sekarang, angin kesembuhan telah bertiup, lalu aku merasakan sakit dan mendambakan kesehatan. Ini sungguh nikmat agung. Sempurnakan kesembuhan untukku!"

Tuesday, December 6, 2011

Insya Allah, Penderitaan Sirna dan Yang TerSisa adalah Pahala

                                   Akhi, aktivis Islam.. Ketahuilah, Anda akan nerasakan kelelahan luar biasa dan mendapatkan cobaan demi cobaan saat berjalan di jalan kebenaran dan berkiprah di aktivitas untuk Islam. Tapi, jika anda tegar di atas kebenaran dan bersabar mengadapi cobaan, maka penderitaan sirna, kelelahan hilang, dan yang tersisa adalah pahala bagi anda, insya Allah.

                                  Bukankah orang yang berpuasa di tengah terik matahari itu hilang rasa hausnya ketika ia meneguk seteguk air ketika berbuka puasa? Saat itu, ia mengulang-ulang doa yang pernah diajarkan Rasulullah saw,

"Rasa haus telah hilang, urat-urat telah basah, dan yang tersisa adalah pahala, insya Allah."

                                 Ketika Anda menginjakkan kaki di Syurga, saat itu pula segala kelelahan yang pernah Anda rasakan, duka yang dulu mendera Anda, dan luka yang Anda alami di jalan Allah ta'la sirna seketika. Saat itu, dikatakan kepada Anda, "Apakah Anda pernah merasakan penderitaan sebelum ini?" Anda menjawab setelah dicelup sekali ke Syurga."Demi Allah, saya tidak pernah merasakan penderitaan sebelum ini."
                                Kelelahan dan penderitaan Anda tidak ada lagi, sebab segalanya berubah menjadi kegembiraan, kebahgiaan dan kenikmatan. Anda juga mendapatkan pahala, Allah ta'la menambahkan karunia-Nya kepada Anda, dan memuliakan Anda, sesuai dengan kemuliaan dan kedermawanan-Nya. Saat itu, Anda berharap seandainya Anda dulu mencurahkan tenaga dan lelah lebih banyak lagi di jalan agama Anda.

                             

                           Anda juga berharap seandainya di dunia dulu Anda tidak tidur lebih lama demi agama, bepergian lebih lama, dan berkorban lebih banyak di jalan Allah ta'la. Tidak hanya itu, Anda berharap seperti Syahid, yaitu dikembalikan ke dunia untuk dibunuh di jalan-Nya, hidup lagi, dibunuh lagi, hidup lagi,dibunuh lagi, dan seterusnya, karena Anda melihat kemuliaan dan bagaimana Allah ta'la memuliakan Syuhada'




Tausyiyah untuk Aktivis Islam - Dr. Najih Ibrahim
      

Wednesday, September 7, 2011

18 Pada Persahabatan Yang Salih Ada Bekalan


Ukhuwwah di jalan Allah adalah ni’mat besar dan merupakan bekalan yang melimpah serta sentiasa baru. Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan ni’mat ini kepada orang-orang beriman dan menyeru mereka untuk bersatu; tidak bercerai berai, seperti dalam firmanNya:

dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah (ugama Islam), dan janganlah kamu bercerai-berai; dan kenanglah nikmat Allah kepada kamu ketika kamu bermusuh-musuhan (semasa jahiliyah dahulu), lalu Allah menyatukan di antara hati kamu (sehingga kamu bersatu-padu Dengan nikmat Islam), maka menjadilah kamu Dengan nikmat Allah itu orang-orang Islam Yang bersaudara. dan kamu dahulu telah berada di tepi jurang neraka (disebabkan kekufuran kamu semasa jahiliyah), lalu Allah selamatkan kamu dari neraka itu (disebabkan nikmat Islam juga). Demikianlah Allah menjelaskan kepada kamu ayat-ayat keteranganNya, supaya kamu mendapat petunjuk hidayahNya.

(Surah Ali-’Imran: Ayat 103)

Ia merupakan ni’mat yang tidak dapat dibeli dengan wang atau kekayaan dunia, tetapi ia wujud dengan kurniaan dan kekuasaan Allah: Allah SubhanahuwaTa’ala berfirman:

dan (Dia lah) Yang menyatu-padukan di antara hati mereka (yang beriman itu). kalaulah Engkau belanjakan Segala (harta benda) Yang ada di bumi, nescaya Engkau tidak dapat juga menyatu-padukan di antara hati mereka, akan tetapi Allah telah menyatu-padukan di antara (hati) mereka. Sesungguhnya ia Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.

(Surah Al-Anfal: Ayat 63)

Sesungguhnya ikatan ‘aqidah Islam adalah ikatan yang paling kuat secara mutlaq. Orang-orang yang hidup di bawah naungan cinta dan ukhuwwah kerana Allah merasakan ke-bahagiaan dan ketenangan jiwa yang tidak pernah dirasakan oleh orang-orang berkumpul kerana urusan dunia; per-dagangan, hiburan atau keni’matan dunia lainnya. Ikhwanul Muslimin telah merasakan kebahagiaan tersebut. Lantaran itu salah seorang dari mereka merasa terasing apabila tidak hadir pada majlis mereka atau kerana terpaksa berjauhan dari mereka, hingga sebahagian dari mereka mengungkap sebuah pepatah: “Suasana ukhuwwah Ikhwan bagi setiap anggotanya adalah ibarat air bagi ikan.

”Mengenangkan pentingnya hubungan ukhuwwah kerana Allah bagi gerakan da’wah, Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam mempersaudarakan orang-orang Ansar dan orang-orang Muhajirin yang menjadi model teladan dalam hal kecintaan dan ithar (mengutamakan saudaranya lebih dari dirinya)

Sesungguhnya rancangan terbesar yang diseru oleh Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam agar dilaksanakan oleh kaum Muslimin, ialah mengukuhkan ‘aqidah tauhid dan me-negakkan negara Islam, memestikan wujudnya kesepaduan dan ikatan yang kukuh antara anggota jama’ah yang telah menjual diri kepada Allah danberjanji setia untuk membela agamanya, hingga mereka menjadi barisan yang rapi dan kuat seperti bangunan yang tersusun kukuh.

Setelah kami jelaskan kelebihan teman yang salih kami berusaha menjelaskan bagaimana ia menjadi penyokong dan bekalan di sepanjang jalan da’wah.

Seseorang Muslim yang berkecimpung di medan da’wah tidak merentasi jalan yang aman tanpa sebarang gangguan, ia akan menghadapi tentangan, fitnah dan syaitan dari jenis jin juga manusia yang selalu mengintainya. Ketika itu ia amat memerlukan orang yang dapat membimbingnya, menuntunnya, menerangi jalannya, dan mengingatkannya ketika ia lupa serta membantunya ketika ia ingat. Maha Benar Allah Yang berfirman:

Demi Masa! Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian -Kecuali orang-orang yang beriman dan ber’amal salih, dan mereka pula berpesan-pesan dengan kebenaran serta berpesan-pesan dengan sabar.

(Surah Al- ‘Asr: Ayat 1-3)

Ada ketikanya penbadi muslim menghadapi masa-masa futur, kelalaian, atau tertarik dengan pujukan-rayu syaitan. Jika ia bersendirian, keadaan seperti itu akan terus berlanjutan, hingga mungkin ia akan hilang dari “pentas da’wah.” Sesungguhnya serigala itu hanya membaham kambing yang terpisah dari rombongannya. Sebaliknya, bila ia mempunyai sahabat-sahabat yang salih, maka mereka tidak akan membiarkannya sendirian dalam menghadapi syaitan; bila mereka tidak melihatnya di medan ‘amal kebajikan, maka mereka akan mencarinya, mengajaknya, mengingatkannya, dan membantunya untuk mengalahkan jeratan syaitan. Ini merupakan bekalan yang amat baik dalam perjalanan da’wah.

Sesungguhnya sahabat yang salih itu jika kita memandang-nya dapat mengingatkan kita pada Allah dan taat kepadaNya. Sebaliknya, melihat sahabat yang jahat dapat mengingatkan kita pada kemaksiatan dan perbuatan-perbuatan murka. Benarlah Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam yangbersabda:Sahabat yang salih itu ibarat penjual minyak wangi, bila engkau tidak mendapat minyak wangi darinya, maka engkau mendapatkan bau harumnya. Dan sahabat yang jahat itu ibarat tukang besi, bila engkau tidak terkena percikan apinya, maka engkau akan terkena asapnya

.(Hadith riwayat Abu Daud)

Seorang itu merasa ramai dan bererti bila bersama saudara-saudaranya; bila bersendirian, ia merasa bahawa dirinya tidak berharga, tetapi bila bersama saudaranya, maka merasa memiliki peranan yang penting.

Bila pendokong kejahatan yang suka merompak harta dan mencabul kehormatan manusia mereka itu bersatu padu dan mengangkat seorang pimpinan untuk ditaati, maka pendokong kebenaran dan para penda’wah seharusnya lebih bersatu dan memperkuatkan ikatan sesama mereka. Ini kerana orang mu’min itu adalah bersatu dengan mu’min yang lain, ibarat bangunan yang sebahagiannya menguatkan sebahagian yang lain. Seperti yang diisyaratkan oleh Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak mungkin ada sebuah jama’ah yang mampu melaksanakan projek besar dan mewujudkan tujuan bila tidak ada ikatan kecintaan di antara sesama anggotanya.

Orang mu’min itu adalah cerminbagi saudaranya. Setiap orang mesti memiliki kekurangan dan kecacatan, namun ramai di kalangan mereka yang tidak menyedari kekurangan dan ‘aibnya itu. Justeru, ia sangat memerlukan orang yang me-nunjukkan ‘aibnya dan membantunya untuk memperbaiki serta menghilangkan ‘aib tersebut. Tidak ada yang mampu melaksanakan tugas itu, kecuali sahabat atau saudara yang mencintainya kerana Allah, tulus dalam persahabatan, lembut dalam pergaulan, bijak dalam memberikan nasihat, dan menunjukkan kekurangan. Ini juga merupakan sebaik-baik bekalan dalam perjalanan.

Dalam perkara memberi nasihat, ada baiknya kami paparkan sebahagian adab-adabnya, agar dapat dilakukan dengan bijaksana, nasihat yang baik serta berdebat dengan cara yang lebih baik, sesuai dengan firman Allah:

Serulah ke jalan Tuhanmu (wahai Muhammad) dengan nikmat kebijaksanaan dan nasihat pengajaran yang baik, dan berbahaslah dengan mereka (yang engkau serukan itu) dengan cara yang lebih baik

(Surah Al-Nahl: Ayat 125)

Seorang Al-Salaf Al-Salih pernah menyatakan: “Berikanlah nasihat dengan cara sebaik mungkin dan terimalah nasihat dalam bentuk apapun. Siapa yang menasihati saudaranya dengan secara sembunyi, bererti ia akan benar-benar me-nasihatinya, dan siapa yang menasihatinya dengan cara terang-terangan (di tengah orang ramai), maka bererti ia telah memalukannya.”

Sahabat yang salih dapat melipat-gandakan kemampuan dan potensi seseorang; ketika ia memikirkan suatu urusan, seolah-olah ia berfikir dengan menggunakan pemikiran saudara-saudaranya, sebab ia meminta pertimbangan dari mereka. Apabila ia melakukan suatu kerja, maka seluruh saudaranya sedia membantunya dengan seluruh kekuatan dan pengalaman yang mereka miliki.

Sahabat yang salih dapat menambahkan kebahagiaan seseorang, kerana mereka turut serta dengan kegembiraannya dan berusaha meringankan kesusahan dan kepedihannya; bila tertimpa musibah, maka mereka membantunya dengan harta dan tenaga mereka, serta menguatkannya agar bersabar dalam menghadapi cobaan dan tidak menyerah pada kesedihan. Ini merupakan sebaik-baik bekalan.

Kelihatan para penda’wah itu bergerak bukan hanya berbekalkan kekuatan hatinya sendiri, akan tetapi didukung bersama oleh kekuatan hati saudara-saudaranya, hingga ia dibantu untuk mengetahui jalan untuk melakukan ketaatan, teguh, dan mengatasi semua halangan. Ini bukan hanya sekadar bekalan, bahkan bekalan yang berlipat ganda.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyeru kita agar selalu tolong-menolong dalam kebaikan dan ketaqwaaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan hendaklah kamu bertolong-tolongan untuk membuat kebajikan dan bertaqwa, dan janganlah kamu bertolong-tolongan pada melakukan dosa (maksiat) dan pencerobohan

(Surah Al-Ma’idah: Ayat 2)

Jelas arahan ini ditujukan kepada kaum Muslimin yang bersatu, bukan pada individu yang bercerai-berai. Justeru, persahabatan dan persaudaraan yang baik adalah wajib dan menjadi kemestian agar wujudnya kerjasama yang diperintahkan dalam ayat di atas.

Alangkah indahnya persaudaraan yang terjadi di sebuah kampung atau sebuah daerah; mereka saling tolong menolong dalam berbagai kebaikan dan keta’atan, terutama dalam kebaikan yang banyak dilupakan oleh kaum Muslimin saat ini, misalnya; qiyamullail, salat berjama’ah di masjid, terutama salat Subuh dan ‘Isya’, menghadiri majlis-majlis Al-Qur’an, majlis ilmu dan majlis zikir, mengikuti rombongan da’wah yang menyeru ke jalan Ilahi, dan membantu orang-orang fakir serta yang memerlukannya.

Alangkah besar faedah persahabatan yang baik, terutama pada saat seseorang menghadapi tribulasi, kesulitan, dan tekanan kuat agar ia berpaling dari jalan da’wah atau agar ia menyimpang dari jalan yang lurus, yang diperintahkan oleh Allah. Dengan demikian, nampak jelaslah kepentingan persahabatan yang baik dalam menjaga dan memelihara para penda’wah dari tergelincir, terbantut, penyimpangan, atau terpengaruh dengan rayuan mahupun ancaman dari musuh-musuh Allah serta usaha-usaha jahat mereka untuk memisahkan aktivis Islam daribarisannya.

Hal itu dapat kami rasakan ketika badai ujian menerpa Ikhwanul Muslimin. Ini hanya sebahagian dari barakah dan manfaat jama’ah dan ukhuwwah yang tulus kerana Allah.

Alangkah besarnya bekalan rohani yang diperolehi oleh seseorang dari persahabatan yang baik, saat saudara-saudaranya mendo’akan kebaikan untuknya dari jarak jauh, kerana do’a seperti itu termasuk salah satu do’a yang dikabulkan, sebagaimana yang telah diberitakan oleh Rasulullah Sallallahu ‘alaihiwasallam.

Alangkah besarnya bekal yang diraih oleh seorang Muslim dari persahabatan yang baik, saling mencintai kerana Allah, sebab kecintaan dan pengampunan Allah tercurah untuk mereka. la juga akan mendapat pahala yang besar ketika melaksanakan ukhuwwah sesama saudara-saudaranya; saling memandang dengan cinta kerana Allah, saling berjabat tangan, saling tersenyum ketika bertemu, saling berkunjung, saling menasihati dan mengingatkan pada kebenaran, dan sebagainya.

Hadith-hadith yang menjelaskan hal itu amat banyak, antara lain hadith tujuh golongan yang akan mendapat naungan dari Allah pada hari tidak ada naungan kecuali naunganNya; di antara tujuh golongan itu adalah:Dua orang yang saling mencintai kerana Allah; berkumpul kerana Allah dan berpisah juga kerana Allah.

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu, Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam baginda bersabda:

Ada seseorang yang mengunjungi saudaranya di luar kampungnya, lalu Allah mengutus malaikat untuk menyiasat halnya dalam perjalanannya Malaikat bertanya kepadanya; “Hendak ke manakah anda?” la menjawab: “Saya ingin mengunjungi saudara saya di kampung itu?” Malaikat bertanya lagi: “Apakah ada sesuatu ni’mat dunia (hutang) yang ingin engkau dapatkan?” la menjawab: “Tidak, tapi saya mencintainya kerana Allah.” Malaikat berkata: “Sesungguhnya saya adalah utusan Allah (untuk menyampaikan berita) bahawa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu keranaNya “

(Hadith riwayat Muslim)

Muslim meriwayatkan dalam kitab “Al-Zikr”, bahawa, pada suatu hari Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam, keluar dari rumah dan bertemu dengan sahabat yang sedang berkumpul, lantas berkata:

“Untuk apa kamu duduk bersama-sama?” Mereka menjawab: “Kami duduk untuk berzikir kepada Allah dan memujinya atas ni’mat Islam yang diberikan kepada kami dan membimbing kami kepadanya.”Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Demi Allah, hanya itukah tujuan kamu duduk duduk bersama?” Mereka menjawab: “Demi Allah, tiada yang menyebabkan kami duduk kecuali sebab itu.” Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku tidak menyuruhmu bersumpah kerana curiga kepadamu, akan tetapi Jibril telah datang kepadaku dan memberi khabar bahawa Allah membangga-banggakan kamu dikalangan malaikat.”

Lantaran pentingnya persahabatan yang baik dan pengaruhnya yang baik bagi Islam dan kaum Muslimin, maka Islam sangat prihatin terhadap perkara berkenaan, menjaganya dari segala perkara yang dapat mengganggu persatuan dan keutuhannya, serta mengharamkan segala perkara yang dapat menimbulkan kebencian, permusuhan, dan pertikaian antara kaum muslimin, misalnya; penipuan, pengkhianatan, menjual dengan cara menipu, riba, minuman keras, judi, iri hati, saling membenci, menghina, berburuk sangka, mengintip-intip, memutus hubungan, dan sebagainya,

seperti hadith Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam yang berikut:

Janganlah kamu saling memutuskan hubungan, jangan saling berpaling muka, jangan saling membenci, danjadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim tidak boleh berpaling dari saudaranya lebih dari tiga hari.

(Hadith riwayat Al-Bukhari dan Muslim )

Di samping itu Allah juga menunjukkan cara terbaik untuk menghilangkan atau menyelesaikan perselisihan yang terjadi di kalangan kaum Muslimin. Kaum mu’min wajib turut serta berusaha mendamaikan dua saudaranya yang sedangberbalah:Dan jika dua puak dari orang-orang yang beriman berperang, maka damaikanlah di antara keduanya

(Surah Al-Hujurat: Ayat 9

)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:Sebenarnya orang-orang yang beriman itu adalah bersaudara, maka damaikanlah di antara dua saudara kamu (yang bertelingkah) itu; dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beroleh rahmat.(Surah Al-Hujurat: Ayat 10)Persaudaraan dan persahabatan yang baik melahirkan persatuan dan perpaduan, kekuatan dan kebaikan bagi Islam dan kaum Muslimin. Apabila berpecah dan perselisihan terjadi, maka kegagalan, kelemahan, dan bahaya akan tercetus.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:Janganlah kamu berbantah-bantahan; kalau tidak nescaya kamu menjadi lemah semangat dan hilang kekuatan kamu, dan sabarlah (menghadapi segala kesukaran dengan cekal hati); sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.(Surah Al-Anfal: Ayat 46)

Syaitan dan musuh musuh Allah sangat murka melihat kesatuan dan kerjasama antara kaum Muslimin. Justeru itu, mereka berusaha sekuat tenaga menimbulkan perpecahan di tengah-tengah kaum Muslimin. Syaitan dan musuh-musuh Allah sangat benci kepada persatuan dan kerjasama di antara kaum Muslimin. Justeru, kita harus berwaspada dan jangan memberi kesempatan pada mereka untuk mewujudkan hal itu. Jangan sampai kita marah kerana kepentingan peribadi dan jangan mengatakan hal-hal yang menyakiti saudara kita, untuk memenuhi seruan Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:Dan katakanlah (wahai Muhammad) kepada hamba-hambaKu (yang beriman), supaya mereka berkata dengan kata-kata yang amat baik (kepada orang-orang yang menentang kebenaran); sesungguhnya syaitan itu sentiasa menghasut di antara mereka (yang mu’min dan yang menentang); sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang amat nyata bagi manusia

(Surah Al-Isra’: Ayat 53)Alangkah bahagianya kita mendapat ni’mat Islam dan ni’mat persaudaraan kerana Allah. Alangkah tepatnya kalau kita memelihara ni’mat-ni’mat tersebut sekuat tenaga dan dengan cara dan jalan yang kita sanggup.Wahai saudaraku, sewajarnya anda mempunyai sahabat yang salih, sebab ianya merupakan sebaik-baik pembantu dan bekal dalam perjalanan da’wah!Ukhuwwah di jalan Allah adalah ni’mat besar dan merupakan bekalan yang melimpah serta sentiasa baru. Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan ni’mat ini kepada orang-orang beriman dan menyeru mereka untuk bersatu; tidak bercerai berai, seperti dalam firmanNya:


dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah (ugama Islam), dan janganlah kamu bercerai-berai; dan kenanglah nikmat Allah kepada kamu ketika kamu bermusuh-musuhan (semasa jahiliyah dahulu), lalu Allah menyatukan di antara hati kamu (sehingga kamu bersatu-padu Dengan nikmat Islam), maka menjadilah kamu Dengan nikmat Allah itu orang-orang Islam Yang bersaudara. dan kamu dahulu telah berada di tepi jurang neraka (disebabkan kekufuran kamu semasa jahiliyah), lalu Allah selamatkan kamu dari neraka itu (disebabkan nikmat Islam juga). Demikianlah Allah menjelaskan kepada kamu ayat-ayat keteranganNya, supaya kamu mendapat petunjuk hidayahNya.

(Surah Ali-’Imran: Ayat 103)

Ia merupakan ni’mat yang tidak dapat dibeli dengan wang atau kekayaan dunia, tetapi ia wujud dengan kurniaan dan kekuasaan Allah: Allah SubhanahuwaTa’ala berfirman:

dan (Dia lah) Yang menyatu-padukan di antara hati mereka (yang beriman itu). kalaulah Engkau belanjakan Segala (harta benda) Yang ada di bumi, nescaya Engkau tidak dapat juga menyatu-padukan di antara hati mereka, akan tetapi Allah telah menyatu-padukan di antara (hati) mereka. Sesungguhnya ia Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.

(Surah Al-Anfal: Ayat 63)

Sesungguhnya ikatan ‘aqidah Islam adalah ikatan yang paling kuat secara mutlaq. Orang-orang yang hidup di bawah naungan cinta dan ukhuwwah kerana Allah merasakan ke-bahagiaan dan ketenangan jiwa yang tidak pernah dirasakan oleh orang-orang berkumpul kerana urusan dunia; per-dagangan, hiburan atau keni’matan dunia lainnya. Ikhwanul Muslimin telah merasakan kebahagiaan tersebut. Lantaran itu salah seorang dari mereka merasa terasing apabila tidak hadir pada majlis mereka atau kerana terpaksa berjauhan dari mereka, hingga sebahagian dari mereka mengungkap sebuah pepatah: “Suasana ukhuwwah Ikhwan bagi setiap anggotanya adalah ibarat air bagi ikan.”

Mengenangkan pentingnya hubungan ukhuwwah kerana Allah bagi gerakan da’wah, Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam mempersaudarakan orang-orang Ansar dan orang-orang Muhajirin yang menjadi model teladan dalam hal kecintaan dan ithar (mengutamakan saudaranya lebih dari dirinya)

Sesungguhnya rancangan terbesar yang diseru oleh Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam agar dilaksanakan oleh kaum Muslimin, ialah mengukuhkan ‘aqidah tauhid dan me-negakkan negara Islam, memestikan wujudnya kesepaduan dan ikatan yang kukuh antara anggota jama’ah yang telah menjual diri kepada Allah danberjanji setia untuk membela agamanya, hingga mereka menjadi barisan yang rapi dan kuat seperti bangunan yang tersusun kukuh.

Setelah kami jelaskan kelebihan teman yang salih kami berusaha menjelaskan bagaimana ia menjadi penyokong dan bekalan di sepanjang jalan da’wah.

Seseorang Muslim yang berkecimpung di medan da’wah tidak merentasi jalan yang aman tanpa sebarang gangguan, ia akan menghadapi tentangan, fitnah dan syaitan dari jenis jin juga manusia yang selalu mengintainya. Ketika itu ia amat memerlukan orang yang dapat membimbingnya, menuntunnya, menerangi jalannya, dan mengingatkannya ketika ia lupa serta membantunya ketika ia ingat. Maha Benar Allah Yang berfirman:

Demi Masa! Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian -Kecuali orang-orang yang beriman dan ber’amal salih, dan mereka pula berpesan-pesan dengan kebenaran serta berpesan-pesan dengan sabar.

(Surah Al- ‘Asr: Ayat 1-3)

Ada ketikanya penbadi muslim menghadapi masa-masa futur, kelalaian, atau tertarik dengan pujukan-rayu syaitan. Jika ia bersendirian, keadaan seperti itu akan terus berlanjutan, hingga mungkin ia akan hilang dari “pentas da’wah.” Sesungguhnya serigala itu hanya membaham kambing yang terpisah dari rombongannya. Sebaliknya, bila ia mempunyai sahabat-sahabat yang salih, maka mereka tidak akan membiarkannya sendirian dalam menghadapi syaitan; bila mereka tidak melihatnya di medan ‘amal kebajikan, maka mereka akan mencarinya, mengajaknya, mengingatkannya, dan membantunya untuk mengalahkan jeratan syaitan. Ini merupakan bekalan yang amat baik dalam perjalanan da’wah.

Sesungguhnya sahabat yang salih itu jika kita memandang-nya dapat mengingatkan kita pada Allah dan taat kepadaNya. Sebaliknya, melihat sahabat yang jahat dapat mengingatkan kita pada kemaksiatan dan perbuatan-perbuatan murka. Benarlah Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam yangbersabda:

Sahabat yang salih itu ibarat penjual minyak wangi, bila engkau tidak mendapat minyak wangi darinya, maka engkau mendapatkan bau harumnya. Dan sahabat yang jahat itu ibarat tukang besi, bila engkau tidak terkena percikan apinya, maka engkau akan terkena asapnya.

(Hadith riwayat Abu Daud)

Seorang itu merasa ramai dan bererti bila bersama saudara-saudaranya; bila bersendirian, ia merasa bahawa dirinya tidak berharga, tetapi bila bersama saudaranya, maka merasa memiliki peranan yang penting.

Bila pendokong kejahatan yang suka merompak harta dan mencabul kehormatan manusia mereka itu bersatu padu dan mengangkat seorang pimpinan untuk ditaati, maka pendokong kebenaran dan para penda’wah seharusnya lebih bersatu dan memperkuatkan ikatan sesama mereka. Ini kerana orang mu’min itu adalah bersatu dengan mu’min yang lain, ibarat bangunan yang sebahagiannya menguatkan sebahagian yang lain. Seperti yang diisyaratkan oleh Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak mungkin ada sebuah jama’ah yang mampu melaksanakan projek besar dan mewujudkan tujuan bila tidak ada ikatan kecintaan di antara sesama anggotanya.

Orang mu’min itu adalah cerminbagi saudaranya. Setiap orang mesti memiliki kekurangan dan kecacatan, namun ramai di kalangan mereka yang tidak menyedari kekurangan dan ‘aibnya itu. Justeru, ia sangat memerlukan orang yang me-nunjukkan ‘aibnya dan membantunya untuk memperbaiki serta menghilangkan ‘aib tersebut. Tidak ada yang mampu melaksanakan tugas itu, kecuali sahabat atau saudara yang mencintainya kerana Allah, tulus dalam persahabatan, lembut dalam pergaulan, bijak dalam memberikan nasihat, dan menunjukkan kekurangan. Ini juga merupakan sebaik-baik bekalan dalam perjalanan.

Dalam perkara memberi nasihat, ada baiknya kami paparkan sebahagian adab-adabnya, agar dapat dilakukan dengan bijaksana, nasihat yang baik serta berdebat dengan cara yang lebih baik, sesuai dengan firman Allah:

Serulah ke jalan Tuhanmu (wahai Muhammad) dengan nikmat kebijaksanaan dan nasihat pengajaran yang baik, dan berbahaslah dengan mereka (yang engkau serukan itu) dengan cara yang lebih baik

(Surah Al-Nahl: Ayat 125)

Seorang Al-Salaf Al-Salih pernah menyatakan: “Berikanlah nasihat dengan cara sebaik mungkin dan terimalah nasihat dalam bentuk apapun. Siapa yang menasihati saudaranya dengan secara sembunyi, bererti ia akan benar-benar me-nasihatinya, dan siapa yang menasihatinya dengan cara terang-terangan (di tengah orang ramai), maka bererti ia telah memalukannya.”

Sahabat yang salih dapat melipat-gandakan kemampuan dan potensi seseorang; ketika ia memikirkan suatu urusan, seolah-olah ia berfikir dengan menggunakan pemikiran saudara-saudaranya, sebab ia meminta pertimbangan dari mereka. Apabila ia melakukan suatu kerja, maka seluruh saudaranya sedia membantunya dengan seluruh kekuatan dan pengalaman yang mereka miliki.

Sahabat yang salih dapat menambahkan kebahagiaan seseorang, kerana mereka turut serta dengan kegembiraannya dan berusaha meringankan kesusahan dan kepedihannya; bila tertimpa musibah, maka mereka membantunya dengan harta dan tenaga mereka, serta menguatkannya agar bersabar dalam menghadapi cobaan dan tidak menyerah pada kesedihan. Ini merupakan sebaik-baik bekalan.

Kelihatan para penda’wah itu bergerak bukan hanya berbekalkan kekuatan hatinya sendiri, akan tetapi didukung bersama oleh kekuatan hati saudara-saudaranya, hingga ia dibantu untuk mengetahui jalan untuk melakukan ketaatan, teguh, dan mengatasi semua halangan. Ini bukan hanya sekadar bekalan, bahkan bekalan yang berlipat ganda.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyeru kita agar selalu tolong-menolong dalam kebaikan dan ketaqwaaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan hendaklah kamu bertolong-tolongan untuk membuat kebajikan dan bertaqwa, dan janganlah kamu bertolong-tolongan pada melakukan dosa (maksiat) dan pencerobohan

(Surah Al-Ma’idah: Ayat 2)

Jelas arahan ini ditujukan kepada kaum Muslimin yang bersatu, bukan pada individu yang bercerai-berai. Justeru, persahabatan dan persaudaraan yang baik adalah wajib dan menjadi kemestian agar wujudnya kerjasama yang diperintahkan dalam ayat di atas.

Alangkah indahnya persaudaraan yang terjadi di sebuah kampung atau sebuah daerah; mereka saling tolong menolong dalam berbagai kebaikan dan keta’atan, terutama dalam kebaikan yang banyak dilupakan oleh kaum Muslimin saat ini, misalnya; qiyamullail, salat berjama’ah di masjid, terutama salat Subuh dan ‘Isya’, menghadiri majlis-majlis Al-Qur’an, majlis ilmu dan majlis zikir, mengikuti rombongan da’wah yang menyeru ke jalan Ilahi, dan membantu orang-orang fakir serta yang memerlukannya.

Alangkah besar faedah persahabatan yang baik, terutama pada saat seseorang menghadapi tribulasi, kesulitan, dan tekanan kuat agar ia berpaling dari jalan da’wah atau agar ia menyimpang dari jalan yang lurus, yang diperintahkan oleh Allah. Dengan demikian, nampak jelaslah kepentingan persahabatan yang baik dalam menjaga dan memelihara para penda’wah dari tergelincir, terbantut, penyimpangan, atau terpengaruh dengan rayuan mahupun ancaman dari musuh-musuh Allah serta usaha-usaha jahat mereka untuk memisahkan aktivis Islam daribarisannya. Hal itu dapatkamirasakanketikabadai ujian menerpa Ikhwanul Muslimin. Ini hanya sebahagian dari barakah dan manfaat jama’ah dan ukhuwwah yang tulus kerana Allah.

Alangkah besarnya bekalan rohani yang diperolehi oleh seseorang dari persahabatan yang baik, saat saudara-saudaranya mendo’akan kebaikan untuknya dari jarak jauh, kerana do’a seperti itu termasuk salah satu do’a yang dikabulkan, sebagaimana yang telah diberitakan oleh Rasulullah Sallallahu ‘alaihiwasallam.

Alangkah besarnya bekal yang diraih oleh seorang Muslim dari persahabatan yang baik, saling mencintai kerana Allah, sebab kecintaan dan pengampunan Allah tercurah untuk mereka. la juga akan mendapat pahala yang besar ketika melaksanakan ukhuwwah sesama saudara-saudaranya; saling memandang dengan cinta kerana Allah, saling berjabat tangan, saling tersenyum ketika bertemu, saling berkunjung, saling menasihati dan mengingatkan pada kebenaran, dan sebagainya. Hadith-hadith yang menjelaskan hal itu amat banyak, antara lain hadith tujuh golongan yang akan mendapat naungan dari Allah pada hari tidak ada naungan kecuali naunganNya; di antara tujuh golongan itu adalah:

Dua orang yang saling mencintai kerana Allah; berkumpul kerana Allah dan berpisah juga kerana Allah.

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu, Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam baginda bersabda:

Ada seseorang yang mengunjungi saudaranya di luar kampungnya, lalu Allah mengutus malaikat untuk menyiasat halnya dalam perjalanannya Malaikat bertanya kepadanya; “Hendak ke manakah anda?” la menjawab: “Saya ingin mengunjungi saudara saya di kampung itu?” Malaikat bertanya lagi: “Apakah ada sesuatu ni’mat dunia (hutang) yang ingin engkau dapatkan?” la menjawab: “Tidak, tapi saya mencintainya kerana Allah.” Malaikat berkata: “Sesungguhnya saya adalah utusan Allah (untuk menyampaikan berita) bahawa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu keranaNya “

(Hadith riwayat Muslim)

Muslim meriwayatkan dalam kitab “Al-Zikr”, bahawa, pada suatu hari Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam, keluar dari rumah dan bertemu dengan sahabat yang sedang berkumpul, lantas berkata:

“Untuk apa kamu duduk bersama-sama?” Mereka menjawab: “Kami duduk untuk berzikir kepada Allah dan memujinya atas ni’mat Islam yang diberikan kepada kami dan membimbing kami kepadanya.”Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Demi Allah, hanya itukah tujuan kamu duduk duduk bersama?” Mereka menjawab: “Demi Allah, tiada yang menyebabkan kami duduk kecuali sebab itu.” Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku tidak menyuruhmu bersumpah kerana curiga kepadamu, akan tetapi Jibril telah datang kepadaku dan memberi khabar bahawa Allah membangga-banggakan kamu dikalangan malaikat.”

Lantaran pentingnya persahabatan yang baik dan pengaruhnya yang baik bagi Islam dan kaum Muslimin, maka Islam sangat prihatin terhadap perkara berkenaan, menjaganya dari segala perkara yang dapat mengganggu persatuan dan keutuhannya, serta mengharamkan segala perkara yang dapat menimbulkan kebencian, permusuhan, dan pertikaian antara kaum muslimin, misalnya; penipuan, pengkhianatan, menjual dengan cara menipu, riba, minuman keras, judi, iri hati, saling membenci, menghina, berburuk sangka, mengintip-intip, memutus hubungan, dan sebagainya, seperti hadith Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam yang berikut:

Janganlah kamu saling memutuskan hubungan, jangan saling berpaling muka, jangan saling membenci, danjadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim tidak boleh berpaling dari saudaranya lebih dari tiga hari.

(Hadith riwayat Al-Bukhari dan Muslim )

Di samping itu Allah juga menunjukkan cara terbaik untuk menghilangkan atau menyelesaikan perselisihan yang terjadi di kalangan kaum Muslimin. Kaum mu’min wajib turut serta berusaha mendamaikan dua saudaranya yang sedangberbalah:

Dan jika dua puak dari orang-orang yang beriman berperang, maka damaikanlah di antara keduanya

(Surah Al-Hujurat: Ayat 9)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Sebenarnya orang-orang yang beriman itu adalah bersaudara, maka damaikanlah di antara dua saudara kamu (yang bertelingkah) itu; dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beroleh rahmat.

(Surah Al-Hujurat: Ayat 10)

Persaudaraan dan persahabatan yang baik melahirkan persatuan dan perpaduan, kekuatan dan kebaikan bagi Islam dan kaum Muslimin. Apabila berpecah dan perselisihan terjadi, maka kegagalan, kelemahan, dan bahaya akan tercetus.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Janganlah kamu berbantah-bantahan; kalau tidak nescaya kamu menjadi lemah semangat dan hilang kekuatan kamu, dan sabarlah (menghadapi segala kesukaran dengan cekal hati); sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

(Surah Al-Anfal: Ayat 46)

Syaitan dan musuh musuh Allah sangat murka melihat kesatuan dan kerjasama antara kaum Muslimin. Justeru itu, mereka berusaha sekuat tenaga menimbulkan perpecahan di tengah-tengah kaum Muslimin. Syaitan dan musuh-musuh Allah sangat benci kepada persatuan dan kerjasama di antara kaum Muslimin. Justeru, kita harus berwaspada dan jangan memberi kesempatan pada mereka untuk mewujudkan hal itu. Jangan sampai kita marah kerana kepentingan peribadi dan jangan mengatakan hal-hal yang menyakiti saudara kita, untuk memenuhi seruan Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan katakanlah (wahai Muhammad) kepada hamba-hambaKu (yang beriman), supaya mereka berkata dengan kata-kata yang amat baik (kepada orang-orang yang menentang kebenaran); sesungguhnya syaitan itu sentiasa menghasut di antara mereka (yang mu’min dan yang menentang); sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang amat nyata bagi manusia

(Surah Al-Isra’: Ayat 53)

Alangkah bahagianya kita mendapat ni’mat Islam dan ni’mat persaudaraan kerana Allah. Alangkah tepatnya kalau kita memelihara ni’mat-ni’mat tersebut sekuat tenaga dan dengan cara dan jalan yang kita sanggup.

Wahai saudaraku, sewajarnya anda mempunyai sahabat yang salih, sebab ianya merupakan sebaik-baik pembantu dan bekal dalam perjalanan da’wah!

Saturday, August 27, 2011

Uwais Al Qarni : Terkenal Di Langit Tak Terkenal di Bumi

Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, bahunya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya selalu di dada melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, kuat membaca Al Quran dan menangis, pakaiannya hanya ada dua helai kusut

yang satu untuk menutup badan dan yang satunya untuk kain pelikat. Tiada siapa yang menghiraukannya, tak dikenali oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit.

Jika dia berdoa kepada Allah, pasti terkabul. Pada hari kiamat nanti ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk syurga, dia dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi syafaat, ternyata Allah memberi izin dia untuk memberi syafaat sejumlah qabilah Rabi’ah dan qabilah Mudhor, semua dimasukkan syurga, tak ada yang ketinggalan. Dia adalah “Uwais al Qarni”. Dia tidak terkenal dan juga miskin, banyak orang suka mentertawakannya, mengolok-olok, dan menuduhnya sebagai peminta, pencuri serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya.

Seorang fuqaha negeri Kuffah ingin duduk dengannya lalu memberinya hadiah dua helai pakaian tapi tidak berhasil, kerana hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya seraya berkata : “Aku bimbang, nanti sebahagian orang menuduh aku, dari mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari meminta pasti dari mencuri”.

Pemuda dari Yaman ini sudah lama menjadi anak yatim, tak punya sanak saudara kecuali hanya ibunya yang telah tua dan lumpuh. Untuk menampung kehidupannya, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekadar kais pagi makan pagi kais petang makan petang bersama ibunya. Jila ada rezeki yang lebih, ia digunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya. Kesibukannya sebagai penggembala dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mengurangkan kegigihan ibadahnya. Dia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.

Uwais al-Qarni telah memeluk Islam ketika penduduk negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad SAW yang mana telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagiNya. Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur. Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, dia segera memeluknya kerana selama ini hati Uwais selalu rindukan kebenaran. Banyak jirannya yang telah memeluk Islam pergi ke Madinah untuk mendengar ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung.

Sekembalinya mereka di Yaman, mereka menukar rumahtangga mereka dengan cara kehidupan Islam.

Alangkah sedihnya hati Uwais setiap kali melihat jiran-jirannya yang baru balik dari Madinah. Mereka itu telah “bertamu dan bertemu” dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedangkan dia sendiri belum berkesempatan berbuat sedemikian. Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untukbertemu dengan baginda. Tetapi apakan daya, dia tidak mempunyai belanja yang mencukupi untuk ke Madinah dan perkara yang lebih merisaukan ialah tiada siapa yang akan menjaga dan merawat ibunya jika dia pergi.

Diceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera dan giginya patah kerana dilemparkan dengan batu oleh musuh-musuhnya. Berita ini akhirnya didengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada baginda SAW sekalipun dia belum pernah melihatnya. Hari berganti dan

musim berlalu dan kerinduan yang tidak dapat dibendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, bilakah dia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah baginda dari dekat? Tapi, bukankah dia mempunyai ibu yang sangat memerlukan penjagaannya dan tidak dapat ditingalkan sendirian. Hatinya

selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa. Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya sambil mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi SAW di Madinah. Si ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memahami perasaan Uwais dan berkata “Pergilah wahai anakku ! jumpalah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”. Dengan rasa gembira dia pun berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan

kepada jirannya agar dapat menemani ibunya semasa dia pergi.

Sesudah memeluk sambil mencium ibunya, berangkatlah Uwais menuju ke Madinah yang jaraknya kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman. Medan yang begitu ganas dilaluinya, tanpa memperduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari. Semuanya dilalui demi berjumpa dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya. Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina Aisyah r.a, sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais bertanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata baginda SAW tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi SAW dari medan perang. Tapi, bilakah baginda akan pulang ? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan uzur itu, agar dia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas pulang”. Kerana ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemahuannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Dia akhirnya dengan terpaksa mohon izin kepada sayyidatina ‘Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya

menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan perasaan sedih.

Sepulangnya baginda dari medan perang, Nabi SAW terus bertanya tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahawa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Dia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda Rasulullah SAW, sayyidatina ‘Aisyah r.a. dan para sahabatnya terpegun.

Menurut sayyidatina Aisyah r.a., memang benar ada yang mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, kerana ibunya sudah tua dan uzur sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Rasulullah SAW bersabda : “Kalau kamu sekalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, dia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.” Sesudah itu baginda SAW, memandang kepada sayyidina Ali r.a dan sayyidina Umar r.a. lalu bersabda : “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni

bumi”.

Tahun demi tahun terus silih berganti dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat sehinggalah kekhalifahan sayyidina Abu Bakar as-Siddiq r.a. telah dipegang oleh Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi SAW tentang Uwais al-Qarni, si penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kepada sayyidina Ali r.a untuk mencarinya bersama-sama. Sejak

itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu bertanyakan tentang Uwais al-Qarni, adakah dia turut bersama mereka. Di antara kafilah-kafilah itu ada yang merasa hairan, apakah sebenarnya yang terjadi hinggakan dia dicari oleh beliau berdua. Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka.

Suatu ketika, Uwais al-Qarni menyertai rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali r.a mendatangi mereka dan bertanyakan adakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahawa dia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawapan itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qarni. Sesampainya di khemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali r.a memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan solat. Setelah mengakhiri solatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu berjabat tangan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais

sebagaimana yang pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar ! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tetamu tersebut, siapakah nama saudara ? “Abdullah”, jawab Uwais. Mendengar jawapan itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan : “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?” Uwais kemudian berkata: “Nama saya Uwais al-Qarni”. Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, dia dapat turut bersama rombongan kafilah dagang pada ketika itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali r.a memohon agar Uwais berkenan mendoakan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah: “Sayalah yang harus meminta doa kepada kalian”. Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata: “Kami datang ke sini untuk mohon doa dan istighfar dari anda”. Kerana desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qarni akhirnya mengangkat kedua tangannya berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan wang negara dari Baitulmal kepada Uwais untuk menampung hidupnya. Uwais terus menolak dengan halus dengan berkata : “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi”.

Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam hingga langsung tidak mendengar berita tentangnya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan ditolong oleh Uwais. Ketika itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin taufan berhembus dengan kencang. Akibatnya, hempasan ombak menghentam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, kami melihat seorang lelaki yang mengenakan selimut berbulu di sudut kapal yang kami naiki lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan solat di atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. “Wahai waliullah,” Tolonglah kami !” tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi,” Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!”Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata: “Apa yang terjadi ?” “Tidakkah engkau melihat bahawa kapal ditiup angin dan dihentam ombak ?”tanya kami. “Dekatkanlah diri kamu kepada Allah ! “katanya. “Kami telah melakukannya.” “Keluarlah kalian dari kapal

dengan membaca bismillahirrahmaanirrahiim!” Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami lima ratus lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut. Lalu orang itu berkata pada kami ,”Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat”. “Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan ? “Tanya kami. “Uwais al-Qarni”. Jawabnya dengan singkat. Kemudian kami berkata lagi kepadanya, “Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir.” “Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membahagikannya kepada orang fakir di Madinah?”

tanyanya.”Ya,”jawab kami. Orang itu pun melaksanakan solat dua rakaat di atas air lalu berdoa. Setelah Uwais al-Qarni mengucap salam tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air lalu kami menaikinya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membahagi-bahagikan seluruh harta kepada golongan fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.

Beberapa waktu kemudian, tersebarlah berita tentang Uwais al-Qarni telah kembali ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah ramai orang yang berebut-rebut untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafankan, di sana sudah ada sesetengah orang yang menunggu untuk mengkafankannya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya. Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, “ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari menghantarkan jenazahnya lalu aku bermaksud untuk kembali ke kuburnya tanda memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tidak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah individu yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa

pemerintahan sayyidina Umar r.a.)

Meninggalnya Uwais al-Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi perkara yang amat menakjubkan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenali datang untuk menguruskan jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang. Sejak dia dimandikan sehinggalah jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya : “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qarni ? Bukankah Uwais yang kita kenal hanya seorang fakir yang tak memiliki apa-apa yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala keldai dan unta ? Tapi ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenali. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk

mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa “Uwais al-Qarni” ternyata ia tak terkenal di bumi tapi terkenal di langit.