Pages

Tuesday, December 6, 2011

Insya Allah, Penderitaan Sirna dan Yang TerSisa adalah Pahala

                                   Akhi, aktivis Islam.. Ketahuilah, Anda akan nerasakan kelelahan luar biasa dan mendapatkan cobaan demi cobaan saat berjalan di jalan kebenaran dan berkiprah di aktivitas untuk Islam. Tapi, jika anda tegar di atas kebenaran dan bersabar mengadapi cobaan, maka penderitaan sirna, kelelahan hilang, dan yang tersisa adalah pahala bagi anda, insya Allah.

                                  Bukankah orang yang berpuasa di tengah terik matahari itu hilang rasa hausnya ketika ia meneguk seteguk air ketika berbuka puasa? Saat itu, ia mengulang-ulang doa yang pernah diajarkan Rasulullah saw,

"Rasa haus telah hilang, urat-urat telah basah, dan yang tersisa adalah pahala, insya Allah."

                                 Ketika Anda menginjakkan kaki di Syurga, saat itu pula segala kelelahan yang pernah Anda rasakan, duka yang dulu mendera Anda, dan luka yang Anda alami di jalan Allah ta'la sirna seketika. Saat itu, dikatakan kepada Anda, "Apakah Anda pernah merasakan penderitaan sebelum ini?" Anda menjawab setelah dicelup sekali ke Syurga."Demi Allah, saya tidak pernah merasakan penderitaan sebelum ini."
                                Kelelahan dan penderitaan Anda tidak ada lagi, sebab segalanya berubah menjadi kegembiraan, kebahgiaan dan kenikmatan. Anda juga mendapatkan pahala, Allah ta'la menambahkan karunia-Nya kepada Anda, dan memuliakan Anda, sesuai dengan kemuliaan dan kedermawanan-Nya. Saat itu, Anda berharap seandainya Anda dulu mencurahkan tenaga dan lelah lebih banyak lagi di jalan agama Anda.

                             

                           Anda juga berharap seandainya di dunia dulu Anda tidak tidur lebih lama demi agama, bepergian lebih lama, dan berkorban lebih banyak di jalan Allah ta'la. Tidak hanya itu, Anda berharap seperti Syahid, yaitu dikembalikan ke dunia untuk dibunuh di jalan-Nya, hidup lagi, dibunuh lagi, hidup lagi,dibunuh lagi, dan seterusnya, karena Anda melihat kemuliaan dan bagaimana Allah ta'la memuliakan Syuhada'




Tausyiyah untuk Aktivis Islam - Dr. Najih Ibrahim
      

Wednesday, September 7, 2011

18 Pada Persahabatan Yang Salih Ada Bekalan


Ukhuwwah di jalan Allah adalah ni’mat besar dan merupakan bekalan yang melimpah serta sentiasa baru. Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan ni’mat ini kepada orang-orang beriman dan menyeru mereka untuk bersatu; tidak bercerai berai, seperti dalam firmanNya:

dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah (ugama Islam), dan janganlah kamu bercerai-berai; dan kenanglah nikmat Allah kepada kamu ketika kamu bermusuh-musuhan (semasa jahiliyah dahulu), lalu Allah menyatukan di antara hati kamu (sehingga kamu bersatu-padu Dengan nikmat Islam), maka menjadilah kamu Dengan nikmat Allah itu orang-orang Islam Yang bersaudara. dan kamu dahulu telah berada di tepi jurang neraka (disebabkan kekufuran kamu semasa jahiliyah), lalu Allah selamatkan kamu dari neraka itu (disebabkan nikmat Islam juga). Demikianlah Allah menjelaskan kepada kamu ayat-ayat keteranganNya, supaya kamu mendapat petunjuk hidayahNya.

(Surah Ali-’Imran: Ayat 103)

Ia merupakan ni’mat yang tidak dapat dibeli dengan wang atau kekayaan dunia, tetapi ia wujud dengan kurniaan dan kekuasaan Allah: Allah SubhanahuwaTa’ala berfirman:

dan (Dia lah) Yang menyatu-padukan di antara hati mereka (yang beriman itu). kalaulah Engkau belanjakan Segala (harta benda) Yang ada di bumi, nescaya Engkau tidak dapat juga menyatu-padukan di antara hati mereka, akan tetapi Allah telah menyatu-padukan di antara (hati) mereka. Sesungguhnya ia Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.

(Surah Al-Anfal: Ayat 63)

Sesungguhnya ikatan ‘aqidah Islam adalah ikatan yang paling kuat secara mutlaq. Orang-orang yang hidup di bawah naungan cinta dan ukhuwwah kerana Allah merasakan ke-bahagiaan dan ketenangan jiwa yang tidak pernah dirasakan oleh orang-orang berkumpul kerana urusan dunia; per-dagangan, hiburan atau keni’matan dunia lainnya. Ikhwanul Muslimin telah merasakan kebahagiaan tersebut. Lantaran itu salah seorang dari mereka merasa terasing apabila tidak hadir pada majlis mereka atau kerana terpaksa berjauhan dari mereka, hingga sebahagian dari mereka mengungkap sebuah pepatah: “Suasana ukhuwwah Ikhwan bagi setiap anggotanya adalah ibarat air bagi ikan.

”Mengenangkan pentingnya hubungan ukhuwwah kerana Allah bagi gerakan da’wah, Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam mempersaudarakan orang-orang Ansar dan orang-orang Muhajirin yang menjadi model teladan dalam hal kecintaan dan ithar (mengutamakan saudaranya lebih dari dirinya)

Sesungguhnya rancangan terbesar yang diseru oleh Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam agar dilaksanakan oleh kaum Muslimin, ialah mengukuhkan ‘aqidah tauhid dan me-negakkan negara Islam, memestikan wujudnya kesepaduan dan ikatan yang kukuh antara anggota jama’ah yang telah menjual diri kepada Allah danberjanji setia untuk membela agamanya, hingga mereka menjadi barisan yang rapi dan kuat seperti bangunan yang tersusun kukuh.

Setelah kami jelaskan kelebihan teman yang salih kami berusaha menjelaskan bagaimana ia menjadi penyokong dan bekalan di sepanjang jalan da’wah.

Seseorang Muslim yang berkecimpung di medan da’wah tidak merentasi jalan yang aman tanpa sebarang gangguan, ia akan menghadapi tentangan, fitnah dan syaitan dari jenis jin juga manusia yang selalu mengintainya. Ketika itu ia amat memerlukan orang yang dapat membimbingnya, menuntunnya, menerangi jalannya, dan mengingatkannya ketika ia lupa serta membantunya ketika ia ingat. Maha Benar Allah Yang berfirman:

Demi Masa! Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian -Kecuali orang-orang yang beriman dan ber’amal salih, dan mereka pula berpesan-pesan dengan kebenaran serta berpesan-pesan dengan sabar.

(Surah Al- ‘Asr: Ayat 1-3)

Ada ketikanya penbadi muslim menghadapi masa-masa futur, kelalaian, atau tertarik dengan pujukan-rayu syaitan. Jika ia bersendirian, keadaan seperti itu akan terus berlanjutan, hingga mungkin ia akan hilang dari “pentas da’wah.” Sesungguhnya serigala itu hanya membaham kambing yang terpisah dari rombongannya. Sebaliknya, bila ia mempunyai sahabat-sahabat yang salih, maka mereka tidak akan membiarkannya sendirian dalam menghadapi syaitan; bila mereka tidak melihatnya di medan ‘amal kebajikan, maka mereka akan mencarinya, mengajaknya, mengingatkannya, dan membantunya untuk mengalahkan jeratan syaitan. Ini merupakan bekalan yang amat baik dalam perjalanan da’wah.

Sesungguhnya sahabat yang salih itu jika kita memandang-nya dapat mengingatkan kita pada Allah dan taat kepadaNya. Sebaliknya, melihat sahabat yang jahat dapat mengingatkan kita pada kemaksiatan dan perbuatan-perbuatan murka. Benarlah Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam yangbersabda:Sahabat yang salih itu ibarat penjual minyak wangi, bila engkau tidak mendapat minyak wangi darinya, maka engkau mendapatkan bau harumnya. Dan sahabat yang jahat itu ibarat tukang besi, bila engkau tidak terkena percikan apinya, maka engkau akan terkena asapnya

.(Hadith riwayat Abu Daud)

Seorang itu merasa ramai dan bererti bila bersama saudara-saudaranya; bila bersendirian, ia merasa bahawa dirinya tidak berharga, tetapi bila bersama saudaranya, maka merasa memiliki peranan yang penting.

Bila pendokong kejahatan yang suka merompak harta dan mencabul kehormatan manusia mereka itu bersatu padu dan mengangkat seorang pimpinan untuk ditaati, maka pendokong kebenaran dan para penda’wah seharusnya lebih bersatu dan memperkuatkan ikatan sesama mereka. Ini kerana orang mu’min itu adalah bersatu dengan mu’min yang lain, ibarat bangunan yang sebahagiannya menguatkan sebahagian yang lain. Seperti yang diisyaratkan oleh Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak mungkin ada sebuah jama’ah yang mampu melaksanakan projek besar dan mewujudkan tujuan bila tidak ada ikatan kecintaan di antara sesama anggotanya.

Orang mu’min itu adalah cerminbagi saudaranya. Setiap orang mesti memiliki kekurangan dan kecacatan, namun ramai di kalangan mereka yang tidak menyedari kekurangan dan ‘aibnya itu. Justeru, ia sangat memerlukan orang yang me-nunjukkan ‘aibnya dan membantunya untuk memperbaiki serta menghilangkan ‘aib tersebut. Tidak ada yang mampu melaksanakan tugas itu, kecuali sahabat atau saudara yang mencintainya kerana Allah, tulus dalam persahabatan, lembut dalam pergaulan, bijak dalam memberikan nasihat, dan menunjukkan kekurangan. Ini juga merupakan sebaik-baik bekalan dalam perjalanan.

Dalam perkara memberi nasihat, ada baiknya kami paparkan sebahagian adab-adabnya, agar dapat dilakukan dengan bijaksana, nasihat yang baik serta berdebat dengan cara yang lebih baik, sesuai dengan firman Allah:

Serulah ke jalan Tuhanmu (wahai Muhammad) dengan nikmat kebijaksanaan dan nasihat pengajaran yang baik, dan berbahaslah dengan mereka (yang engkau serukan itu) dengan cara yang lebih baik

(Surah Al-Nahl: Ayat 125)

Seorang Al-Salaf Al-Salih pernah menyatakan: “Berikanlah nasihat dengan cara sebaik mungkin dan terimalah nasihat dalam bentuk apapun. Siapa yang menasihati saudaranya dengan secara sembunyi, bererti ia akan benar-benar me-nasihatinya, dan siapa yang menasihatinya dengan cara terang-terangan (di tengah orang ramai), maka bererti ia telah memalukannya.”

Sahabat yang salih dapat melipat-gandakan kemampuan dan potensi seseorang; ketika ia memikirkan suatu urusan, seolah-olah ia berfikir dengan menggunakan pemikiran saudara-saudaranya, sebab ia meminta pertimbangan dari mereka. Apabila ia melakukan suatu kerja, maka seluruh saudaranya sedia membantunya dengan seluruh kekuatan dan pengalaman yang mereka miliki.

Sahabat yang salih dapat menambahkan kebahagiaan seseorang, kerana mereka turut serta dengan kegembiraannya dan berusaha meringankan kesusahan dan kepedihannya; bila tertimpa musibah, maka mereka membantunya dengan harta dan tenaga mereka, serta menguatkannya agar bersabar dalam menghadapi cobaan dan tidak menyerah pada kesedihan. Ini merupakan sebaik-baik bekalan.

Kelihatan para penda’wah itu bergerak bukan hanya berbekalkan kekuatan hatinya sendiri, akan tetapi didukung bersama oleh kekuatan hati saudara-saudaranya, hingga ia dibantu untuk mengetahui jalan untuk melakukan ketaatan, teguh, dan mengatasi semua halangan. Ini bukan hanya sekadar bekalan, bahkan bekalan yang berlipat ganda.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyeru kita agar selalu tolong-menolong dalam kebaikan dan ketaqwaaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan hendaklah kamu bertolong-tolongan untuk membuat kebajikan dan bertaqwa, dan janganlah kamu bertolong-tolongan pada melakukan dosa (maksiat) dan pencerobohan

(Surah Al-Ma’idah: Ayat 2)

Jelas arahan ini ditujukan kepada kaum Muslimin yang bersatu, bukan pada individu yang bercerai-berai. Justeru, persahabatan dan persaudaraan yang baik adalah wajib dan menjadi kemestian agar wujudnya kerjasama yang diperintahkan dalam ayat di atas.

Alangkah indahnya persaudaraan yang terjadi di sebuah kampung atau sebuah daerah; mereka saling tolong menolong dalam berbagai kebaikan dan keta’atan, terutama dalam kebaikan yang banyak dilupakan oleh kaum Muslimin saat ini, misalnya; qiyamullail, salat berjama’ah di masjid, terutama salat Subuh dan ‘Isya’, menghadiri majlis-majlis Al-Qur’an, majlis ilmu dan majlis zikir, mengikuti rombongan da’wah yang menyeru ke jalan Ilahi, dan membantu orang-orang fakir serta yang memerlukannya.

Alangkah besar faedah persahabatan yang baik, terutama pada saat seseorang menghadapi tribulasi, kesulitan, dan tekanan kuat agar ia berpaling dari jalan da’wah atau agar ia menyimpang dari jalan yang lurus, yang diperintahkan oleh Allah. Dengan demikian, nampak jelaslah kepentingan persahabatan yang baik dalam menjaga dan memelihara para penda’wah dari tergelincir, terbantut, penyimpangan, atau terpengaruh dengan rayuan mahupun ancaman dari musuh-musuh Allah serta usaha-usaha jahat mereka untuk memisahkan aktivis Islam daribarisannya.

Hal itu dapat kami rasakan ketika badai ujian menerpa Ikhwanul Muslimin. Ini hanya sebahagian dari barakah dan manfaat jama’ah dan ukhuwwah yang tulus kerana Allah.

Alangkah besarnya bekalan rohani yang diperolehi oleh seseorang dari persahabatan yang baik, saat saudara-saudaranya mendo’akan kebaikan untuknya dari jarak jauh, kerana do’a seperti itu termasuk salah satu do’a yang dikabulkan, sebagaimana yang telah diberitakan oleh Rasulullah Sallallahu ‘alaihiwasallam.

Alangkah besarnya bekal yang diraih oleh seorang Muslim dari persahabatan yang baik, saling mencintai kerana Allah, sebab kecintaan dan pengampunan Allah tercurah untuk mereka. la juga akan mendapat pahala yang besar ketika melaksanakan ukhuwwah sesama saudara-saudaranya; saling memandang dengan cinta kerana Allah, saling berjabat tangan, saling tersenyum ketika bertemu, saling berkunjung, saling menasihati dan mengingatkan pada kebenaran, dan sebagainya.

Hadith-hadith yang menjelaskan hal itu amat banyak, antara lain hadith tujuh golongan yang akan mendapat naungan dari Allah pada hari tidak ada naungan kecuali naunganNya; di antara tujuh golongan itu adalah:Dua orang yang saling mencintai kerana Allah; berkumpul kerana Allah dan berpisah juga kerana Allah.

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu, Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam baginda bersabda:

Ada seseorang yang mengunjungi saudaranya di luar kampungnya, lalu Allah mengutus malaikat untuk menyiasat halnya dalam perjalanannya Malaikat bertanya kepadanya; “Hendak ke manakah anda?” la menjawab: “Saya ingin mengunjungi saudara saya di kampung itu?” Malaikat bertanya lagi: “Apakah ada sesuatu ni’mat dunia (hutang) yang ingin engkau dapatkan?” la menjawab: “Tidak, tapi saya mencintainya kerana Allah.” Malaikat berkata: “Sesungguhnya saya adalah utusan Allah (untuk menyampaikan berita) bahawa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu keranaNya “

(Hadith riwayat Muslim)

Muslim meriwayatkan dalam kitab “Al-Zikr”, bahawa, pada suatu hari Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam, keluar dari rumah dan bertemu dengan sahabat yang sedang berkumpul, lantas berkata:

“Untuk apa kamu duduk bersama-sama?” Mereka menjawab: “Kami duduk untuk berzikir kepada Allah dan memujinya atas ni’mat Islam yang diberikan kepada kami dan membimbing kami kepadanya.”Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Demi Allah, hanya itukah tujuan kamu duduk duduk bersama?” Mereka menjawab: “Demi Allah, tiada yang menyebabkan kami duduk kecuali sebab itu.” Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku tidak menyuruhmu bersumpah kerana curiga kepadamu, akan tetapi Jibril telah datang kepadaku dan memberi khabar bahawa Allah membangga-banggakan kamu dikalangan malaikat.”

Lantaran pentingnya persahabatan yang baik dan pengaruhnya yang baik bagi Islam dan kaum Muslimin, maka Islam sangat prihatin terhadap perkara berkenaan, menjaganya dari segala perkara yang dapat mengganggu persatuan dan keutuhannya, serta mengharamkan segala perkara yang dapat menimbulkan kebencian, permusuhan, dan pertikaian antara kaum muslimin, misalnya; penipuan, pengkhianatan, menjual dengan cara menipu, riba, minuman keras, judi, iri hati, saling membenci, menghina, berburuk sangka, mengintip-intip, memutus hubungan, dan sebagainya,

seperti hadith Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam yang berikut:

Janganlah kamu saling memutuskan hubungan, jangan saling berpaling muka, jangan saling membenci, danjadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim tidak boleh berpaling dari saudaranya lebih dari tiga hari.

(Hadith riwayat Al-Bukhari dan Muslim )

Di samping itu Allah juga menunjukkan cara terbaik untuk menghilangkan atau menyelesaikan perselisihan yang terjadi di kalangan kaum Muslimin. Kaum mu’min wajib turut serta berusaha mendamaikan dua saudaranya yang sedangberbalah:Dan jika dua puak dari orang-orang yang beriman berperang, maka damaikanlah di antara keduanya

(Surah Al-Hujurat: Ayat 9

)Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:Sebenarnya orang-orang yang beriman itu adalah bersaudara, maka damaikanlah di antara dua saudara kamu (yang bertelingkah) itu; dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beroleh rahmat.(Surah Al-Hujurat: Ayat 10)Persaudaraan dan persahabatan yang baik melahirkan persatuan dan perpaduan, kekuatan dan kebaikan bagi Islam dan kaum Muslimin. Apabila berpecah dan perselisihan terjadi, maka kegagalan, kelemahan, dan bahaya akan tercetus.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:Janganlah kamu berbantah-bantahan; kalau tidak nescaya kamu menjadi lemah semangat dan hilang kekuatan kamu, dan sabarlah (menghadapi segala kesukaran dengan cekal hati); sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.(Surah Al-Anfal: Ayat 46)

Syaitan dan musuh musuh Allah sangat murka melihat kesatuan dan kerjasama antara kaum Muslimin. Justeru itu, mereka berusaha sekuat tenaga menimbulkan perpecahan di tengah-tengah kaum Muslimin. Syaitan dan musuh-musuh Allah sangat benci kepada persatuan dan kerjasama di antara kaum Muslimin. Justeru, kita harus berwaspada dan jangan memberi kesempatan pada mereka untuk mewujudkan hal itu. Jangan sampai kita marah kerana kepentingan peribadi dan jangan mengatakan hal-hal yang menyakiti saudara kita, untuk memenuhi seruan Allah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:Dan katakanlah (wahai Muhammad) kepada hamba-hambaKu (yang beriman), supaya mereka berkata dengan kata-kata yang amat baik (kepada orang-orang yang menentang kebenaran); sesungguhnya syaitan itu sentiasa menghasut di antara mereka (yang mu’min dan yang menentang); sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang amat nyata bagi manusia

(Surah Al-Isra’: Ayat 53)Alangkah bahagianya kita mendapat ni’mat Islam dan ni’mat persaudaraan kerana Allah. Alangkah tepatnya kalau kita memelihara ni’mat-ni’mat tersebut sekuat tenaga dan dengan cara dan jalan yang kita sanggup.Wahai saudaraku, sewajarnya anda mempunyai sahabat yang salih, sebab ianya merupakan sebaik-baik pembantu dan bekal dalam perjalanan da’wah!Ukhuwwah di jalan Allah adalah ni’mat besar dan merupakan bekalan yang melimpah serta sentiasa baru. Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan ni’mat ini kepada orang-orang beriman dan menyeru mereka untuk bersatu; tidak bercerai berai, seperti dalam firmanNya:


dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah (ugama Islam), dan janganlah kamu bercerai-berai; dan kenanglah nikmat Allah kepada kamu ketika kamu bermusuh-musuhan (semasa jahiliyah dahulu), lalu Allah menyatukan di antara hati kamu (sehingga kamu bersatu-padu Dengan nikmat Islam), maka menjadilah kamu Dengan nikmat Allah itu orang-orang Islam Yang bersaudara. dan kamu dahulu telah berada di tepi jurang neraka (disebabkan kekufuran kamu semasa jahiliyah), lalu Allah selamatkan kamu dari neraka itu (disebabkan nikmat Islam juga). Demikianlah Allah menjelaskan kepada kamu ayat-ayat keteranganNya, supaya kamu mendapat petunjuk hidayahNya.

(Surah Ali-’Imran: Ayat 103)

Ia merupakan ni’mat yang tidak dapat dibeli dengan wang atau kekayaan dunia, tetapi ia wujud dengan kurniaan dan kekuasaan Allah: Allah SubhanahuwaTa’ala berfirman:

dan (Dia lah) Yang menyatu-padukan di antara hati mereka (yang beriman itu). kalaulah Engkau belanjakan Segala (harta benda) Yang ada di bumi, nescaya Engkau tidak dapat juga menyatu-padukan di antara hati mereka, akan tetapi Allah telah menyatu-padukan di antara (hati) mereka. Sesungguhnya ia Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.

(Surah Al-Anfal: Ayat 63)

Sesungguhnya ikatan ‘aqidah Islam adalah ikatan yang paling kuat secara mutlaq. Orang-orang yang hidup di bawah naungan cinta dan ukhuwwah kerana Allah merasakan ke-bahagiaan dan ketenangan jiwa yang tidak pernah dirasakan oleh orang-orang berkumpul kerana urusan dunia; per-dagangan, hiburan atau keni’matan dunia lainnya. Ikhwanul Muslimin telah merasakan kebahagiaan tersebut. Lantaran itu salah seorang dari mereka merasa terasing apabila tidak hadir pada majlis mereka atau kerana terpaksa berjauhan dari mereka, hingga sebahagian dari mereka mengungkap sebuah pepatah: “Suasana ukhuwwah Ikhwan bagi setiap anggotanya adalah ibarat air bagi ikan.”

Mengenangkan pentingnya hubungan ukhuwwah kerana Allah bagi gerakan da’wah, Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam mempersaudarakan orang-orang Ansar dan orang-orang Muhajirin yang menjadi model teladan dalam hal kecintaan dan ithar (mengutamakan saudaranya lebih dari dirinya)

Sesungguhnya rancangan terbesar yang diseru oleh Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam agar dilaksanakan oleh kaum Muslimin, ialah mengukuhkan ‘aqidah tauhid dan me-negakkan negara Islam, memestikan wujudnya kesepaduan dan ikatan yang kukuh antara anggota jama’ah yang telah menjual diri kepada Allah danberjanji setia untuk membela agamanya, hingga mereka menjadi barisan yang rapi dan kuat seperti bangunan yang tersusun kukuh.

Setelah kami jelaskan kelebihan teman yang salih kami berusaha menjelaskan bagaimana ia menjadi penyokong dan bekalan di sepanjang jalan da’wah.

Seseorang Muslim yang berkecimpung di medan da’wah tidak merentasi jalan yang aman tanpa sebarang gangguan, ia akan menghadapi tentangan, fitnah dan syaitan dari jenis jin juga manusia yang selalu mengintainya. Ketika itu ia amat memerlukan orang yang dapat membimbingnya, menuntunnya, menerangi jalannya, dan mengingatkannya ketika ia lupa serta membantunya ketika ia ingat. Maha Benar Allah Yang berfirman:

Demi Masa! Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian -Kecuali orang-orang yang beriman dan ber’amal salih, dan mereka pula berpesan-pesan dengan kebenaran serta berpesan-pesan dengan sabar.

(Surah Al- ‘Asr: Ayat 1-3)

Ada ketikanya penbadi muslim menghadapi masa-masa futur, kelalaian, atau tertarik dengan pujukan-rayu syaitan. Jika ia bersendirian, keadaan seperti itu akan terus berlanjutan, hingga mungkin ia akan hilang dari “pentas da’wah.” Sesungguhnya serigala itu hanya membaham kambing yang terpisah dari rombongannya. Sebaliknya, bila ia mempunyai sahabat-sahabat yang salih, maka mereka tidak akan membiarkannya sendirian dalam menghadapi syaitan; bila mereka tidak melihatnya di medan ‘amal kebajikan, maka mereka akan mencarinya, mengajaknya, mengingatkannya, dan membantunya untuk mengalahkan jeratan syaitan. Ini merupakan bekalan yang amat baik dalam perjalanan da’wah.

Sesungguhnya sahabat yang salih itu jika kita memandang-nya dapat mengingatkan kita pada Allah dan taat kepadaNya. Sebaliknya, melihat sahabat yang jahat dapat mengingatkan kita pada kemaksiatan dan perbuatan-perbuatan murka. Benarlah Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam yangbersabda:

Sahabat yang salih itu ibarat penjual minyak wangi, bila engkau tidak mendapat minyak wangi darinya, maka engkau mendapatkan bau harumnya. Dan sahabat yang jahat itu ibarat tukang besi, bila engkau tidak terkena percikan apinya, maka engkau akan terkena asapnya.

(Hadith riwayat Abu Daud)

Seorang itu merasa ramai dan bererti bila bersama saudara-saudaranya; bila bersendirian, ia merasa bahawa dirinya tidak berharga, tetapi bila bersama saudaranya, maka merasa memiliki peranan yang penting.

Bila pendokong kejahatan yang suka merompak harta dan mencabul kehormatan manusia mereka itu bersatu padu dan mengangkat seorang pimpinan untuk ditaati, maka pendokong kebenaran dan para penda’wah seharusnya lebih bersatu dan memperkuatkan ikatan sesama mereka. Ini kerana orang mu’min itu adalah bersatu dengan mu’min yang lain, ibarat bangunan yang sebahagiannya menguatkan sebahagian yang lain. Seperti yang diisyaratkan oleh Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak mungkin ada sebuah jama’ah yang mampu melaksanakan projek besar dan mewujudkan tujuan bila tidak ada ikatan kecintaan di antara sesama anggotanya.

Orang mu’min itu adalah cerminbagi saudaranya. Setiap orang mesti memiliki kekurangan dan kecacatan, namun ramai di kalangan mereka yang tidak menyedari kekurangan dan ‘aibnya itu. Justeru, ia sangat memerlukan orang yang me-nunjukkan ‘aibnya dan membantunya untuk memperbaiki serta menghilangkan ‘aib tersebut. Tidak ada yang mampu melaksanakan tugas itu, kecuali sahabat atau saudara yang mencintainya kerana Allah, tulus dalam persahabatan, lembut dalam pergaulan, bijak dalam memberikan nasihat, dan menunjukkan kekurangan. Ini juga merupakan sebaik-baik bekalan dalam perjalanan.

Dalam perkara memberi nasihat, ada baiknya kami paparkan sebahagian adab-adabnya, agar dapat dilakukan dengan bijaksana, nasihat yang baik serta berdebat dengan cara yang lebih baik, sesuai dengan firman Allah:

Serulah ke jalan Tuhanmu (wahai Muhammad) dengan nikmat kebijaksanaan dan nasihat pengajaran yang baik, dan berbahaslah dengan mereka (yang engkau serukan itu) dengan cara yang lebih baik

(Surah Al-Nahl: Ayat 125)

Seorang Al-Salaf Al-Salih pernah menyatakan: “Berikanlah nasihat dengan cara sebaik mungkin dan terimalah nasihat dalam bentuk apapun. Siapa yang menasihati saudaranya dengan secara sembunyi, bererti ia akan benar-benar me-nasihatinya, dan siapa yang menasihatinya dengan cara terang-terangan (di tengah orang ramai), maka bererti ia telah memalukannya.”

Sahabat yang salih dapat melipat-gandakan kemampuan dan potensi seseorang; ketika ia memikirkan suatu urusan, seolah-olah ia berfikir dengan menggunakan pemikiran saudara-saudaranya, sebab ia meminta pertimbangan dari mereka. Apabila ia melakukan suatu kerja, maka seluruh saudaranya sedia membantunya dengan seluruh kekuatan dan pengalaman yang mereka miliki.

Sahabat yang salih dapat menambahkan kebahagiaan seseorang, kerana mereka turut serta dengan kegembiraannya dan berusaha meringankan kesusahan dan kepedihannya; bila tertimpa musibah, maka mereka membantunya dengan harta dan tenaga mereka, serta menguatkannya agar bersabar dalam menghadapi cobaan dan tidak menyerah pada kesedihan. Ini merupakan sebaik-baik bekalan.

Kelihatan para penda’wah itu bergerak bukan hanya berbekalkan kekuatan hatinya sendiri, akan tetapi didukung bersama oleh kekuatan hati saudara-saudaranya, hingga ia dibantu untuk mengetahui jalan untuk melakukan ketaatan, teguh, dan mengatasi semua halangan. Ini bukan hanya sekadar bekalan, bahkan bekalan yang berlipat ganda.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyeru kita agar selalu tolong-menolong dalam kebaikan dan ketaqwaaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan hendaklah kamu bertolong-tolongan untuk membuat kebajikan dan bertaqwa, dan janganlah kamu bertolong-tolongan pada melakukan dosa (maksiat) dan pencerobohan

(Surah Al-Ma’idah: Ayat 2)

Jelas arahan ini ditujukan kepada kaum Muslimin yang bersatu, bukan pada individu yang bercerai-berai. Justeru, persahabatan dan persaudaraan yang baik adalah wajib dan menjadi kemestian agar wujudnya kerjasama yang diperintahkan dalam ayat di atas.

Alangkah indahnya persaudaraan yang terjadi di sebuah kampung atau sebuah daerah; mereka saling tolong menolong dalam berbagai kebaikan dan keta’atan, terutama dalam kebaikan yang banyak dilupakan oleh kaum Muslimin saat ini, misalnya; qiyamullail, salat berjama’ah di masjid, terutama salat Subuh dan ‘Isya’, menghadiri majlis-majlis Al-Qur’an, majlis ilmu dan majlis zikir, mengikuti rombongan da’wah yang menyeru ke jalan Ilahi, dan membantu orang-orang fakir serta yang memerlukannya.

Alangkah besar faedah persahabatan yang baik, terutama pada saat seseorang menghadapi tribulasi, kesulitan, dan tekanan kuat agar ia berpaling dari jalan da’wah atau agar ia menyimpang dari jalan yang lurus, yang diperintahkan oleh Allah. Dengan demikian, nampak jelaslah kepentingan persahabatan yang baik dalam menjaga dan memelihara para penda’wah dari tergelincir, terbantut, penyimpangan, atau terpengaruh dengan rayuan mahupun ancaman dari musuh-musuh Allah serta usaha-usaha jahat mereka untuk memisahkan aktivis Islam daribarisannya. Hal itu dapatkamirasakanketikabadai ujian menerpa Ikhwanul Muslimin. Ini hanya sebahagian dari barakah dan manfaat jama’ah dan ukhuwwah yang tulus kerana Allah.

Alangkah besarnya bekalan rohani yang diperolehi oleh seseorang dari persahabatan yang baik, saat saudara-saudaranya mendo’akan kebaikan untuknya dari jarak jauh, kerana do’a seperti itu termasuk salah satu do’a yang dikabulkan, sebagaimana yang telah diberitakan oleh Rasulullah Sallallahu ‘alaihiwasallam.

Alangkah besarnya bekal yang diraih oleh seorang Muslim dari persahabatan yang baik, saling mencintai kerana Allah, sebab kecintaan dan pengampunan Allah tercurah untuk mereka. la juga akan mendapat pahala yang besar ketika melaksanakan ukhuwwah sesama saudara-saudaranya; saling memandang dengan cinta kerana Allah, saling berjabat tangan, saling tersenyum ketika bertemu, saling berkunjung, saling menasihati dan mengingatkan pada kebenaran, dan sebagainya. Hadith-hadith yang menjelaskan hal itu amat banyak, antara lain hadith tujuh golongan yang akan mendapat naungan dari Allah pada hari tidak ada naungan kecuali naunganNya; di antara tujuh golongan itu adalah:

Dua orang yang saling mencintai kerana Allah; berkumpul kerana Allah dan berpisah juga kerana Allah.

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu, Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam baginda bersabda:

Ada seseorang yang mengunjungi saudaranya di luar kampungnya, lalu Allah mengutus malaikat untuk menyiasat halnya dalam perjalanannya Malaikat bertanya kepadanya; “Hendak ke manakah anda?” la menjawab: “Saya ingin mengunjungi saudara saya di kampung itu?” Malaikat bertanya lagi: “Apakah ada sesuatu ni’mat dunia (hutang) yang ingin engkau dapatkan?” la menjawab: “Tidak, tapi saya mencintainya kerana Allah.” Malaikat berkata: “Sesungguhnya saya adalah utusan Allah (untuk menyampaikan berita) bahawa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu keranaNya “

(Hadith riwayat Muslim)

Muslim meriwayatkan dalam kitab “Al-Zikr”, bahawa, pada suatu hari Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam, keluar dari rumah dan bertemu dengan sahabat yang sedang berkumpul, lantas berkata:

“Untuk apa kamu duduk bersama-sama?” Mereka menjawab: “Kami duduk untuk berzikir kepada Allah dan memujinya atas ni’mat Islam yang diberikan kepada kami dan membimbing kami kepadanya.”Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Demi Allah, hanya itukah tujuan kamu duduk duduk bersama?” Mereka menjawab: “Demi Allah, tiada yang menyebabkan kami duduk kecuali sebab itu.” Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku tidak menyuruhmu bersumpah kerana curiga kepadamu, akan tetapi Jibril telah datang kepadaku dan memberi khabar bahawa Allah membangga-banggakan kamu dikalangan malaikat.”

Lantaran pentingnya persahabatan yang baik dan pengaruhnya yang baik bagi Islam dan kaum Muslimin, maka Islam sangat prihatin terhadap perkara berkenaan, menjaganya dari segala perkara yang dapat mengganggu persatuan dan keutuhannya, serta mengharamkan segala perkara yang dapat menimbulkan kebencian, permusuhan, dan pertikaian antara kaum muslimin, misalnya; penipuan, pengkhianatan, menjual dengan cara menipu, riba, minuman keras, judi, iri hati, saling membenci, menghina, berburuk sangka, mengintip-intip, memutus hubungan, dan sebagainya, seperti hadith Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam yang berikut:

Janganlah kamu saling memutuskan hubungan, jangan saling berpaling muka, jangan saling membenci, danjadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim tidak boleh berpaling dari saudaranya lebih dari tiga hari.

(Hadith riwayat Al-Bukhari dan Muslim )

Di samping itu Allah juga menunjukkan cara terbaik untuk menghilangkan atau menyelesaikan perselisihan yang terjadi di kalangan kaum Muslimin. Kaum mu’min wajib turut serta berusaha mendamaikan dua saudaranya yang sedangberbalah:

Dan jika dua puak dari orang-orang yang beriman berperang, maka damaikanlah di antara keduanya

(Surah Al-Hujurat: Ayat 9)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Sebenarnya orang-orang yang beriman itu adalah bersaudara, maka damaikanlah di antara dua saudara kamu (yang bertelingkah) itu; dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beroleh rahmat.

(Surah Al-Hujurat: Ayat 10)

Persaudaraan dan persahabatan yang baik melahirkan persatuan dan perpaduan, kekuatan dan kebaikan bagi Islam dan kaum Muslimin. Apabila berpecah dan perselisihan terjadi, maka kegagalan, kelemahan, dan bahaya akan tercetus.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Janganlah kamu berbantah-bantahan; kalau tidak nescaya kamu menjadi lemah semangat dan hilang kekuatan kamu, dan sabarlah (menghadapi segala kesukaran dengan cekal hati); sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

(Surah Al-Anfal: Ayat 46)

Syaitan dan musuh musuh Allah sangat murka melihat kesatuan dan kerjasama antara kaum Muslimin. Justeru itu, mereka berusaha sekuat tenaga menimbulkan perpecahan di tengah-tengah kaum Muslimin. Syaitan dan musuh-musuh Allah sangat benci kepada persatuan dan kerjasama di antara kaum Muslimin. Justeru, kita harus berwaspada dan jangan memberi kesempatan pada mereka untuk mewujudkan hal itu. Jangan sampai kita marah kerana kepentingan peribadi dan jangan mengatakan hal-hal yang menyakiti saudara kita, untuk memenuhi seruan Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan katakanlah (wahai Muhammad) kepada hamba-hambaKu (yang beriman), supaya mereka berkata dengan kata-kata yang amat baik (kepada orang-orang yang menentang kebenaran); sesungguhnya syaitan itu sentiasa menghasut di antara mereka (yang mu’min dan yang menentang); sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang amat nyata bagi manusia

(Surah Al-Isra’: Ayat 53)

Alangkah bahagianya kita mendapat ni’mat Islam dan ni’mat persaudaraan kerana Allah. Alangkah tepatnya kalau kita memelihara ni’mat-ni’mat tersebut sekuat tenaga dan dengan cara dan jalan yang kita sanggup.

Wahai saudaraku, sewajarnya anda mempunyai sahabat yang salih, sebab ianya merupakan sebaik-baik pembantu dan bekal dalam perjalanan da’wah!

Saturday, August 27, 2011

Uwais Al Qarni : Terkenal Di Langit Tak Terkenal di Bumi

Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, bahunya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya selalu di dada melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, kuat membaca Al Quran dan menangis, pakaiannya hanya ada dua helai kusut

yang satu untuk menutup badan dan yang satunya untuk kain pelikat. Tiada siapa yang menghiraukannya, tak dikenali oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit.

Jika dia berdoa kepada Allah, pasti terkabul. Pada hari kiamat nanti ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk syurga, dia dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi syafaat, ternyata Allah memberi izin dia untuk memberi syafaat sejumlah qabilah Rabi’ah dan qabilah Mudhor, semua dimasukkan syurga, tak ada yang ketinggalan. Dia adalah “Uwais al Qarni”. Dia tidak terkenal dan juga miskin, banyak orang suka mentertawakannya, mengolok-olok, dan menuduhnya sebagai peminta, pencuri serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya.

Seorang fuqaha negeri Kuffah ingin duduk dengannya lalu memberinya hadiah dua helai pakaian tapi tidak berhasil, kerana hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya seraya berkata : “Aku bimbang, nanti sebahagian orang menuduh aku, dari mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari meminta pasti dari mencuri”.

Pemuda dari Yaman ini sudah lama menjadi anak yatim, tak punya sanak saudara kecuali hanya ibunya yang telah tua dan lumpuh. Untuk menampung kehidupannya, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekadar kais pagi makan pagi kais petang makan petang bersama ibunya. Jila ada rezeki yang lebih, ia digunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya. Kesibukannya sebagai penggembala dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mengurangkan kegigihan ibadahnya. Dia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.

Uwais al-Qarni telah memeluk Islam ketika penduduk negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad SAW yang mana telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagiNya. Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur. Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, dia segera memeluknya kerana selama ini hati Uwais selalu rindukan kebenaran. Banyak jirannya yang telah memeluk Islam pergi ke Madinah untuk mendengar ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung.

Sekembalinya mereka di Yaman, mereka menukar rumahtangga mereka dengan cara kehidupan Islam.

Alangkah sedihnya hati Uwais setiap kali melihat jiran-jirannya yang baru balik dari Madinah. Mereka itu telah “bertamu dan bertemu” dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedangkan dia sendiri belum berkesempatan berbuat sedemikian. Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untukbertemu dengan baginda. Tetapi apakan daya, dia tidak mempunyai belanja yang mencukupi untuk ke Madinah dan perkara yang lebih merisaukan ialah tiada siapa yang akan menjaga dan merawat ibunya jika dia pergi.

Diceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera dan giginya patah kerana dilemparkan dengan batu oleh musuh-musuhnya. Berita ini akhirnya didengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada baginda SAW sekalipun dia belum pernah melihatnya. Hari berganti dan

musim berlalu dan kerinduan yang tidak dapat dibendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, bilakah dia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah baginda dari dekat? Tapi, bukankah dia mempunyai ibu yang sangat memerlukan penjagaannya dan tidak dapat ditingalkan sendirian. Hatinya

selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa. Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya sambil mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi SAW di Madinah. Si ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memahami perasaan Uwais dan berkata “Pergilah wahai anakku ! jumpalah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”. Dengan rasa gembira dia pun berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan

kepada jirannya agar dapat menemani ibunya semasa dia pergi.

Sesudah memeluk sambil mencium ibunya, berangkatlah Uwais menuju ke Madinah yang jaraknya kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman. Medan yang begitu ganas dilaluinya, tanpa memperduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari. Semuanya dilalui demi berjumpa dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya. Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina Aisyah r.a, sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais bertanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata baginda SAW tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi SAW dari medan perang. Tapi, bilakah baginda akan pulang ? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan uzur itu, agar dia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas pulang”. Kerana ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemahuannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Dia akhirnya dengan terpaksa mohon izin kepada sayyidatina ‘Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya

menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan perasaan sedih.

Sepulangnya baginda dari medan perang, Nabi SAW terus bertanya tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahawa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Dia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda Rasulullah SAW, sayyidatina ‘Aisyah r.a. dan para sahabatnya terpegun.

Menurut sayyidatina Aisyah r.a., memang benar ada yang mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, kerana ibunya sudah tua dan uzur sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Rasulullah SAW bersabda : “Kalau kamu sekalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, dia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.” Sesudah itu baginda SAW, memandang kepada sayyidina Ali r.a dan sayyidina Umar r.a. lalu bersabda : “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni

bumi”.

Tahun demi tahun terus silih berganti dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat sehinggalah kekhalifahan sayyidina Abu Bakar as-Siddiq r.a. telah dipegang oleh Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi SAW tentang Uwais al-Qarni, si penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kepada sayyidina Ali r.a untuk mencarinya bersama-sama. Sejak

itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu bertanyakan tentang Uwais al-Qarni, adakah dia turut bersama mereka. Di antara kafilah-kafilah itu ada yang merasa hairan, apakah sebenarnya yang terjadi hinggakan dia dicari oleh beliau berdua. Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka.

Suatu ketika, Uwais al-Qarni menyertai rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali r.a mendatangi mereka dan bertanyakan adakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahawa dia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawapan itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qarni. Sesampainya di khemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali r.a memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan solat. Setelah mengakhiri solatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu berjabat tangan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais

sebagaimana yang pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar ! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tetamu tersebut, siapakah nama saudara ? “Abdullah”, jawab Uwais. Mendengar jawapan itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan : “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?” Uwais kemudian berkata: “Nama saya Uwais al-Qarni”. Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, dia dapat turut bersama rombongan kafilah dagang pada ketika itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali r.a memohon agar Uwais berkenan mendoakan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah: “Sayalah yang harus meminta doa kepada kalian”. Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata: “Kami datang ke sini untuk mohon doa dan istighfar dari anda”. Kerana desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qarni akhirnya mengangkat kedua tangannya berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan wang negara dari Baitulmal kepada Uwais untuk menampung hidupnya. Uwais terus menolak dengan halus dengan berkata : “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi”.

Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam hingga langsung tidak mendengar berita tentangnya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan ditolong oleh Uwais. Ketika itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin taufan berhembus dengan kencang. Akibatnya, hempasan ombak menghentam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, kami melihat seorang lelaki yang mengenakan selimut berbulu di sudut kapal yang kami naiki lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan solat di atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. “Wahai waliullah,” Tolonglah kami !” tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi,” Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!”Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata: “Apa yang terjadi ?” “Tidakkah engkau melihat bahawa kapal ditiup angin dan dihentam ombak ?”tanya kami. “Dekatkanlah diri kamu kepada Allah ! “katanya. “Kami telah melakukannya.” “Keluarlah kalian dari kapal

dengan membaca bismillahirrahmaanirrahiim!” Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami lima ratus lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut. Lalu orang itu berkata pada kami ,”Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat”. “Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan ? “Tanya kami. “Uwais al-Qarni”. Jawabnya dengan singkat. Kemudian kami berkata lagi kepadanya, “Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir.” “Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membahagikannya kepada orang fakir di Madinah?”

tanyanya.”Ya,”jawab kami. Orang itu pun melaksanakan solat dua rakaat di atas air lalu berdoa. Setelah Uwais al-Qarni mengucap salam tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air lalu kami menaikinya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membahagi-bahagikan seluruh harta kepada golongan fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.

Beberapa waktu kemudian, tersebarlah berita tentang Uwais al-Qarni telah kembali ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah ramai orang yang berebut-rebut untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafankan, di sana sudah ada sesetengah orang yang menunggu untuk mengkafankannya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya. Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, “ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari menghantarkan jenazahnya lalu aku bermaksud untuk kembali ke kuburnya tanda memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tidak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah individu yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa

pemerintahan sayyidina Umar r.a.)

Meninggalnya Uwais al-Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi perkara yang amat menakjubkan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenali datang untuk menguruskan jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang. Sejak dia dimandikan sehinggalah jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya : “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qarni ? Bukankah Uwais yang kita kenal hanya seorang fakir yang tak memiliki apa-apa yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala keldai dan unta ? Tapi ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenali. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk

mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa “Uwais al-Qarni” ternyata ia tak terkenal di bumi tapi terkenal di langit.

Saturday, April 2, 2011

Menjadi Manusia Mulia

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Allah swt. menciptakan manusia dan memuliakannya atas makhluk ciptaan-Nya yang lain. Manusia diciptakan dari unsur bumi berupa tanah sebagai lambang materi, dengan ditiupkan unsur langit berupa ruh sebagai lambang immateri. Manusia dibekali akal, pendengeran, penglihatan dan hati. Pemuliaan manusia itu ditegaskan Allah swt. dalam berfirman-Nya:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلا

“Dan sungguh Kami telah muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.QS. Al-Isra:70

Bahkan pemuliaan itu dikuatkan dengan dua kata penguat “Huruf Lam dan Kata Qad”, yang berarti menunjukkan makna yang sangat kuat. Secara fisik, manusia diciptakan sebaik-baik bentuk. Allah swt. berfirman:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” At-Tin:4.

Manusia berdiri tegak, manusia berjalan dengan kedua kaki, tidak merangkak seperti binatang melata. Manusia makan dengan tangan, bukan menjilat dengan lidah atau dengan mulutnya langsung (Tafsir Ibnu Katsir). Dan manusia dibekali akal fikiran, untuk membedakan mana yang baik dan yang buruk, mana yang halal dan yang haram.

أَفَمَنْ يَمْشِي مُكِبًّا عَلَى وَجْهِهِ أَهْدَى أَمْ مَنْ يَمْشِي سَوِيًّا عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (22) قُلْ هُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ (23)

“Maka Apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?. Katakanlah: “Dia-lah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. (tetapi) Amat sedikit kamu bersyukur.” Al-Mulk:22-23

Kelemahan Manusia

Di samping penegasan kemuliaan manusia, Allah juga menjelaskan bahwa manusia mempunyai sifat dasar kelemahan. Penjelasan ini agar manusia menyadarinya dan berusaha untuk bisa mengendalikannya. Di antara kelemahan dasar manusia itu adalah:

Sifat lupa, manusia dikatakan insan karena memiliki sifat dasar pelupa, dalam bahasa Arab disebutkan:

سمي الإنسان إنسانا لنسيته

Manusia memiliki sifat tergesa-gesa, Allah swt. berfirman:

وَكَانَ الإنْسَانُ عَجُولا

“Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.Al-Isra’:11

وَكَانَ الإنْسَانُ قَتُورًا

“Dan adalah manusia itu sangat kikir. Al-Isra’:100

إِنَّ الإنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (19) إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (20) وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.” Al-Ma’arij:19-21

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا (36)

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” An-Nisa’:36

إِنَّهُ لَيَئُوسٌ كَفُورٌ (9)

“Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah Dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih.” QS. Hud:9

إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولا

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan amat bodoh.” Al-Ahzab: 70

Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya. Dan Sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya. Dan Sesungguhnya Dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” Al-‘Aadiyat:6-8

Di atas adalah sebagian kelemahan manusia yang Allah informasikan dalam Al-Qur’an.

Bekalan Manusia

Sifat dasar kelemahan manusia; lupa, tergesa-gesa, kikir, keluh kesah, putus asa, kufur, zalim, ingkar dan bodoh itu ada dalam setiap diri manusia, karena manusia memiliki nafsu syahwat dan selagi setan terus menggoda manusia setiap saat.

قال أبو هريرة: يا رسول الله، إذا رأيناك رقَّت قلوبُنا، وكنا من أهل الآخرة، وإذا فارقناك أعجبتنا الدنيا وشَمِمْنا النساء والأولاد، فقال لَوْ أَنَّكُمْ تَكُونُونَ عَلَى كُلِّ حَالٍ ، عَلَى الْحَالِ الَّتِي أَنْتُمْ عَلَيْهَا عِنْدِي، لَصَافَحَتْكُمْ الْمَلائِكَةُ بِأَكُفِّهِمْ ، وَلَزَارَتْكُمْ فِي بُيُوتِكُمْ، وَلَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَجَاءَ اللَّهُ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ كَيْ يُغْفَرَ لَهُمْ”

Dari Abu Hurairah berkata, “Ya Rasulallah, jika kami melihat Engkau, hati kami luluh, kami menjadi –seakan- penduduk akhirat, tapi jika kami berpisah dari Engkau, dunia menakjubkan kami dan kami disibukkan dengan istri-istri dan anak-anak (kami). Maka Rasulullah saw. menjawab: “Jika kalian ada dalam satu kondisi saja, yaitu kondisi di mana kalian bersama saya, maka Malaikat pasti akan menjabat tangan kalian, dan pasti mereka akan singgah di rumah-rumah kalian. Jika kalian tidak melakukan dosa, pasti Allah mendatangkan suatu kaum, mereka melakukan dosa, agar Allah mengampuni mereka.” HR. Imam Ahmad

Namun demikian, Allah swt.telah menyiapkan terminal ruhani, stasiun penghapusan dosa, dan upaya terus menerus agar manusia mampu mengendalikan sifat dasar kelemahan tersebut.

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (8) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا (10)

Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.Asy-Syam:8-10

Terminal ruhani dan stasiun penghapusan dosa itu ada yang sifatnya harian, pekanan, bulanan dan tahunan.

Untuk yang tahunan di antaranya adalah Ramadhan. Ramadhan adalah akademi dan universitas yang mampu melahirkan manusia yang bisa mengendalikan kelemahan dasar dirinya, sekaligus sebagai terminal ruhani dan stasiun penghapusan dosa.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِه

“Barangsiapa berpuasa karena iman dan berhadap ganjaran dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun alaih)

وَالصَّوْمُ جُنَّةٌ

“Dan puasa adalah benteng.” (HR. Bukhari)

Bagi yang diberi keluasan rizki, terminal ruhani tahunan itupun datang dua bulan setelah bulan Ramadhan, yaitu bulan Dzul Hijjah, pelaksanaan ibadah haji. Ibadah haji adalah puncak ibadah dalam kehidupan manusia, karena ia adalah rukun Islam yang kelima.

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ وَالْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ يُكَفَّرُ مَا بَيْنَهُمَا

Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Haji yang mabrur tiada lain pahalanya kecuali surga. Dan umrah satu ke umrah yang lain menghapus dosa antara waktu keduanya.” HR. Imam Ahmad

Terminal ruhani yang sifatnya bulanan di antaranya; shaum sunnah Ayyamul Baidh –shaum putih atau shaum purnama 13,14,15 bulan Qamariyah-. Shaum pada bulan-bulan tertentu, seperti shaum Arafah, shaum muharram, dll.

Yang sifatnya Pekanan berupa shalat Jum’at. Hari Jum’at adalah Sayyidul Ayyam –penghulu hari-hari-. Pelaksanaan Jum’atan sungguh sangat istimewa dan sakral. Pada hari ini disunnahkan melakukan thaharah –bersuci-; potong kuku, potong kumis, potong bulu-bulu halus.

« مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ، ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَدَنَا ، وَأَنْصَتَ ، وَاسْتَمَعَ غُفِرَ لَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ إِلَى الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabd; “Barangsiapa berwudhu dengan membaguskan wudhunya, kemudian berangkat shalat, kemudian ia mendekat, dan menyimak, dan mendengarkan khutbah, ia akan diampuni dosanya dari Jum’at ini ke shalat Jum’at berikutnya dan ditambah tiga hari.” Imam Muslim

Terminal ruhani yang bersifat Harian yaitu berupa shalat lima waktu.

« أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَىْءٌ ». قَالُوا لاَ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَىْءٌ. قَالَ « فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا ». رواه مسلم

Rasulullah saw. bersabda: “Apa pendapat kalian, jika ada sungai di depan pintu rumah kalian, kalian mandi di sana setiap hari lima kali, apakah masih tersisa kotoran? Sahabat menjawab: “Tidak tersisa sedikit pun kotoran sama sekali”. Rasul bersabda:” Itulah perumpamaan shalat lima waktu, Allah menghapus kesalahan-kesalahan dengan shalat lima waktu.” HR. Imam Muslim

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ (45)

“Bacalah apa yang diwahyukan kepadamu dari Al-Kitab, dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mampu mencegah –pelakunya- dari berbuat keji dan munkar, dan dzikir kepada Allah itu perintah yang besar. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.”

Bahkan ada terminal ruhani yang sifatnya setiap waktu dan setiap tempat seperti dengan selalu beristighfar minta pengampunan Allah swt.

Seluruh rangkaian ibadah dalam Islam adalah dalam rangka mengendalikan kekurangan diri, menghapus segala dosa dan kesalahan, memenuhi kepuasan spiritual dan keimanan dan meningkatkan derajat manusia. Meningkatkan derajat itu bahkan bisa melebihi kemuliaan Malaikat sekali pun, sebagaimana Ath-Thabari menafsirkan surat Al-Isra ayat 70 di atas;

وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلا

“Dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.QS. Al-Isra:70

قالت الملائكة: يا ربنا إنك أعطيت بني آدم الدنيا يأكلون منها، ويتنعَّمون، ولم تعطنا ذلك، فأعطناه في الآخرة، فقال: وعزّتي لا أجعل ذرّية من خلقت بيدي، كمن قلت له كن فكان

“Malaikat mengadu, Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengkaruniai anak keturunan Adam dunia, mereka memakan di dalamnya, mereka bersenang-senang di dalamnya, sedangkan kami tidak Engkau beri itu semua, maka karuniakan kami itu di akhirat. Maka Allah swt. berfirman: “Demi kemuliann-Ku, saya tidak akan menjadikan keturunan orang yang Aku ciptakan ia dengan kedua Tanganku sendiri, sebagaimana seperti orang yang Aku berkata kepadanya “Ada, maka ia ada” –itu seperti kalian wahai Malaikat-” (Tafsir At-Thabari, hal 501, juz 30 bab 70)

Akan tetapi sebaliknya, jika manusia terkalahkan dengan sifat dasar kelemahan yang ada pada dirinya, ia akan lebih hina dibanding binatang ternak tak berakal sekalipun. Allah swt. berfirman:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آَذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (179)

“Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.” Al-A’raf:179

Dengan mampu mengendalikan kelemahan dan terus berupaya menjadi manusia yang mulia, maka manusia mampu memainkan peran yang mulia di mata Allah swt., peran sebagai Khalifatullah Fil Ard. Allah swt. berfirman:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Al-Baqarah:30

Menjadi manusia mulia adalah dengan menyeimbangkan unsur materi dan unsur ruhani yang ada pada diri kita, serta dengan usaha mujahadah dalam setiap waktu, momentum dan tempat untuk mampu mengendalikan dan mengalahkan kelemahan diri. Allahu a’lam

Sunday, March 27, 2011

Ruhaniyyat: Hasrat memiliki hati yang broadband kepada Allah

DALAM dunia kepenggunaan Internet, perkhidmatan broadband (jalur lebar) menjadi idaman. Broadband menjanjikan hubungan 24 jam dengan dunia maya global. Namun pernahkan hubungan 24 jam dengan Allah menjadi suatu matlamat yang ingin dicapai?

Sungguh ironi. Saya sendiri berasa cukup kecewa, bengang dan geram apabila Internet terputus (disconnect). Bagaimanapun, hati yang sering disconnect dengan Tuhan tidak pula dibarengi dengan perasaan yang serupa. Sedangkan ketika solat pun sering disconnect, apalagi bila ke pasaraya, pantai, taman tema dan sebagainya.

Hati yang berhubungan dengan Allah dalam sebarang keadaan, masa dan tempat tentunya dimiliki oleh mereka yang istimewa di sisi Allah. Mereka malah disebut-sebut oleh Allah dalam firman-Nya sebagaimana dalam surah ali-'Imran ayat 190- 191.

Firman Allah yang bermaksud, "Sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi dan perselisihan malam dan siang itu, ada beberapa tanda bagi orang yang mempunyai fikiran. Mereka yang menyebut nama Allah sambil berdiri, sambil duduk, dan sambil berbaring, mereka berfikir tentang kejadian langit dan bumi (sambil berkata): Wahai Tuhanku! Engkau tidak jadikan semua ini dengan sia-sia Maha suci Engkau! Dengan itu peliharakanlah kami dari api neraka."

Maksud surah an-Nisa' ayat 103, antara lain Allah berfirman dengan maksud, "Maka apabila kamu telah mendirikan solat, ingatlah pada waktu berdiri, duduk, maupun berbaring...."

Ayat-ayat di atas antara lain mengandungi saranan dan formula untuk sentiasa ingatkan Allah biarpun di luar waktu ibadah khusus atau mungkin diluar masjid. Lantaran langit, matahari, bulan, bintang, tumbuh-tubuhan dan binatang-binatang semuanya merupakan modal dan inspirasi untuk ingatkan Allah.

Tanda-tanda kebesaran Allah juga tersirat di balik kotaraya-kotaraya yang sarat dengan hutan batu. Allah cipta silika untuk dibuat gelas kaca bagi menghiasi kebanyakan bangunan moden. Allah turut mencipta besi, pasir, batu marmar dan lain-lain bahan-bahan pelengkap dalam pembinaan sesebuah bangunan.

Untuk kenderaan yang melata, Allah ciptakan getah sebagai bahan asas kepada tayarnya. Untuk makanan, Allah ciptakan tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang agar dimanfaatkan oleh manusia. Di sebalik roti canai ada pokok gandum yang Allah cipta. Di sebalik teh tarik, ada pokok teh yang Allah hidupkan!

Dan di sebalik pokok-pokok tersebut, Allah turunkan hujan sebagai syarat penting untuk tumbesarannya. Allah cipta matahari untuk membolehkan biji-biji gandum dan daun-daun teh tumbuh subur menerusi proses fotosintesis.

Dalam diri manusia sendiri sahaja dapat mencetuskan daya ingat dan zikir kepada Allah. Tangan dan kaki yang boleh bergerak, mata yang melihat, telinga yang mendengar, mulut yang berkata misalnya sungguh ajaib penciptaannya. Di samping sistem pernafasan, sistem penderiaan, sistem pencernaan, sistem perkumuhan dan lain-lain.

Pun begitu, untuk lidah mengucap 'subhanallah' dan 'alhamdulillah' dengan tanda-tanda kebesaran Allah tersebut tentunya memerlukan latihan dan kemahuan diri yang tinggi. Ia mesti dilazimi sehingga sebati di lidah dan di hati. Ini termasuklah doa masuk dan keluar tandas, doa sebelum dan selepas makan, istighfar, ucapan 'innalillahi wainna ilaihi raji'un' sewaktu ditimpa musibah dan lain-lain.

Allah juga telah sediakan program yang sistematik agar manusia tidak lekang ingatkan-Nya. Sebagai contoh, dalam sehari, Allah programkan lima kali solat fahdhu. Dalam seminggu, Allah programkan solat Jumaat yang diiringi khutbah. Dalam setahun, ada Ramadhan selama sebulan. Dalam seumur hidup, ada pula program haji dan umrah bagi yang berkemampuan.

Firman Allah yang bermaksud, "Kerana itu ingatlah kepada-Ku nescaya Aku ingat kepadamu dan bersyukurlah kamu kepada-Ku dan jangan kamu mengingkari nikmat-Ku." (Al-Baqarah: 152)

Hati yang ikhlas berzikir kepada Allah sudah tentu mendapat perhatian rahmat dan kasih sayang daripada Allah. Allah akan murahkan rezekinya dan mudahkan urusannya, di samping akan memberikan kekuatan kepada hati tadi untuk menapis segala bentuk khurafat dan menepis sebarang maksiat.

Hayatikan lagi kalam mulia yang bermaksud ini, "Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingati Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenang." (Ar-Ra'd: 28)

Siapa lagi yang boleh mentenangkan jiwa manusia kalau bukan Allah? Apakah cara yang paling berkesan malah mempunyai kesan yang berpanjangan untuk mengecapi hati yang tenang kalau bukan dengan zikrullah? Kata orang, bila hati tenang, tempat yang sempit terasa lapang, bila hati resah, tempat yang lapang bagaikan terhimpit.

Nabi Muhammad s.a.w. pastinya model terbaik buat umat, malah bagi seluruh umat manusia. Dalam suatu riwayat oleh Imam Muslim, kata Aisyah r.a. yang bermaksud, "Adalah Rasulullah s.a.w. berzikir kepada Allah setiap masa."

Baginda s.a.w. yang berniaga, mengepalai rumahtangga, memimpin masyarakat dan negara itu terlalu sibuk dengan tugas menyampaikan risalah Islam di samping sibuk dengan amalan harian solat berjamaah, membaca al-Quran dan sebagainya.

Justeru, menyibukkan diri dengan solat lima waktu secara berjamaah, puasa, haji, baca al-Quran, menghadiri majlis ilmu dan tazkirah, berdakwah, mengamalkan doa-doa ringkas harian dan lain-lain insya-Allah akan membuka jalan untuk menghampiri status 'broadband' dengan Allah


Wednesday, March 23, 2011

Kini Ku d Bintulu,Sarawak

Salam utk Saudara2 Ku,


Pertama kali Alhamdulillah,segala puji bg Allah yg di mana Nikmatnyaa x pernah putus mula kta d ciptakan hinggalah sekarang ini masih kta menikmatinyaa,Alhamdulillah...

Sekarang sy dah d malaysia tempat ku d Lahirkan..

sudah setahun tiga bulan study d Bumi yaman,Alhamdulillah byk pengalaman yg d raih...
di sana berjumpa dgn Syeikh2 yg memegang sanad sahih dr Rasulullah saw,rugi plak x ambik,i.Allah de rezki sy akn p sana lg..i.Allah...

Tibanya d KLIA,masyaAllah..mmg panaslah,sbb kat sana'a yaman cuacanya sejuk..dan apabila kta ni mai malaysia mmg trasa terkejut dgn perubahan cuaca d msia...tp,itu bukan mnjadi pokok permasalahan...

ermm...Banyak perkara yang perlu d lakukan bila sampai,
1-pembaikan Diri
2-Dakwah
3-Kerja
3-Muraja'ah

Moga hasrat utk melakukan tercapai...

sy mnta maaflah.sbb sy bukan seorg penulis..dan tujuan d sini...sy ingin berkongsi pe yg Bermanfaat yg kta boleh d perkongsikan..agar ianya mnjadi sumber kebaikan yg mndapat ganjaran dr Allah swt...

Az-Zalzalah 99:7-8
[7]
Maka sesiapa berbuat kebajikan seberat zarah, nescaya akan dilihatnya (dalam surat amalnya)!
[8]
Dan sesiapa berbuat kejahatan seberat zarah, nescaya akan dilihatnya (dalam surat amalnya)!

Wednesday, March 9, 2011

Catatan Ringkas Krisis Yaman


muzaharah menuntut keadilan..

Kini sebulan berlalu sejak revolusi Tunisia dan Mesir. Satu persatu negara arab timur tengah terkesan dengan perubahan 2 negara itu, kebangkitan rakyat menjatuhkan rejim yang zalim. Libya, Bahrain, Algeria, Jordan dan Maghribi antaranya. Begitu juga Yaman, rakyatnya turut serta dengan revolusi Timur Tengah.

Tunjuk perasaan daripada rakyat Yaman saban hari diadakan, tengah hari dan malam. Gerakan anti-kerajaan dan pro-kerajaan saling menarik situasi. Antara slogan yang kerap dilaungkan oleh anti-kerajaan sewaktu demo,
"rakyat mahukan kejatuhan rejim!"

"berambus Ali! dari bumi kami!"
2 gerakan, anti-kerajaan dan pro-kerajaan saling menarik situasi. Beberapa daerah telah berlaku pertumpahan darah yang mencatat angka kematian melebihi belasan orang, sejak mulanya tunjuk perasaan.
Walaupun pergolakan tidak sehebat Libya, yang angka kematiannya mencecah 2000 orang, kekhuatiran tetap ada di negara yang bebas senjata ini, sebarang kemungkinan boleh terjadi.
..ringkasan peristiwa di ibu negara..
Di Sana'a [ibu negara], kawasan strategik untuk berdemonstrasi diambil alih oleh penyokong kerajaan presiden Ali Abdullah Saleh. Antaranya Maidan Tahrir dan lapangan besar berdekatan dengan masjid Rais [masjid Presiden, terbesar dan termewah di Yaman]. Khemah2 dibina. Mereka juga dibekalkan dengan daun Qat, comforter, dan cota untuk menyuraikan pembangkang yang cuba berdemonstrasi [di Maidan Tahrir].

Oleh itu, perhimpunan anti-kerajaan beralih tumpuan dan diadakan di bandar Dairy, di hadapan Sana'a University. Juga tidak ketinggalan perhimpunan daripada penyokong kerajaan, yang diupah keluar untuk menunjuk perasaan dengan ongkos tertentu.

Beberapa hari lepas, berkesempatan untuk keluar ke bandar Dairy mendapatkan bekalan kecemasan. Jalan-jalan dipenuhi orang ramai. Jalan utama di hadapan Sana'a University di kawal rapi oleh anti-kerajaan yang sedang berdemonstrasi. Pemeriksaan dilakukan kepada setiap orang yang ingin melalui jalan itu, kami juga tidak terlepas untuk diperiksa. Sebab utama pemeriksaan diadakan untuk mencegah kemasukan pro-kerajaan yang membawa senjata. Pernah berlaku penyokong kerajaan menyusup masuk ke dalam demonstrasi anti-kerajaan dan melepas tembakan, selain terdapat polis yang menembak mesingan ke udara. Dan pada bahagian lain, penyokong kerajaan juga terlibat dalam tunjuk perasaan.
Sahabat yang lain ada menceritakan pengalaman mereka sewaktu pergi ke bandar Dairy, melihat kereta milik pro-kerajaan dibakar, kerana membawa senjata api ke kawasan demonstrasi anti-kerajaan. Juga ada solat jenazah yang dilakukan di atas jalan berturap. Pertempuran ringan seperti saling melontar batu antara pro dan anti adalah antara yang disaksikan.
..pesan kedutaan Malaysia..

Minggu lalu, terdapat perjumpaan rakyat Malaysia dengan wakil kedutaan Malaysia bertempat di rumah persatuan pelajar Malaysia.
Pesan dan garis panduan duta kepada rakyat Malaysia yang berada di Yaman :
- Jaga keselamatan, jauhkan diri daripada demo2 yang berlangsung.
-Daftar nama dengan persatuan Malaysia, untuk memudahkan perhubungan dengan keluarga kalau ada apa2 yang berlaku.
-Kalau ada apa2 yang berlaku, rakyat Yalaysia di Yaman akan berkumpul di rumah2 wakil2 kedutaan Malaysia.
-Buat masa sekarang, cukupkan bekalan asasi. Antaranya air minum, beras, minyak masak, gas, tepung, dan lain2 untuk tempoh tertentu.

-Untuk masa sekarang, keadaan di Yaman masih terkawal. Demo banyak berlaku di tempat lain. Jauh daripada tempat tinggal student. [setakat ini]
-Jika ada duit dalam bank, keluarkan. Siap sedia untuk sebarang kemungkinan.

-Semua dokumen penting mesti disimpan rapi, seperti pasport, kad pengenalan.

-Tidak menyusahkan dan merisaukan keluarga dengan khabar2 yang kurang pasti.

-Jika keadaan darurat dan memaksa untuk pulang ke tanah air, evakuasi seperti di Mesir akan dilaksanakan.


* moga segala kesulitan dirungkaikan secepat mungkin dengan izin-Nya, dan tidak berpanjangan.. wAllahu a'lam.

Dari ibnsomit.blogspot.com